Hasil Survei: Makin Banyak Orang Nilai Medsos Buruk bagi Demokrasi

6 Oktober 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Semakin banyak orang menilai media sosial (Medsos) memanipulasi dan memecah belah masyarakat serta berdampak buruk terhadap demokrasi. Temuan tersebut berdasarkan survei terbaru Pew Research Center yang dirilis pada Kamis (1/10).

Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran dan pengawasan yang lebih ketat terhadap platform media sosial di berbagai negara.

Perusahaan yang mengoperasikan platform media sosial populer, termasuk Meta, Snap, dan TikTok, telah menghadapi ribuan tuntutan hukum. Beberapa perusahaan juga membayar uang dalam jumlah besar untuk menyelesaikan gugatan yang menuduh mereka merugikan pengguna. Sementara itu, pemerintah di berbagai negara terus mencari cara yang efektif untuk melindungi privasi warganya.

Australia telah mengusulkan aturan yang buat pengguna menonaktifkan feed rekomendasi berdasarkan algoritma. Kebijakan tersebut muncul setelah Australia menjadi negara pertama melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak berusia di bawah 16 tahun.

Hasil survei terbaru Pew seperti dimuat Kumparan menunjukkan 82 persen orang dewasa di Australia mendukung langkah pemerintah untuk membatasi akses media sosial bagi anak-anak.

Pew Research Center sendiri melakukan survei terhadap lebih dari 45.000 orang di 37 negara. Pew juga melakukan jajak pendapat terhadap 5.511 orang dewasa di Amerika Serikat mengenai penggunaan media sosial di negara tersebut.

Hasil survei juga menyebut bahwa mayoritas responden dalam survei mengatakan media sosial membantu memberikan informasi kepada masyarakat sekaligus memberi mereka ruang untuk menyuarakan pendapat dalam politik. Namun, dibandingkan survei pada 2022, semakin banyak responden yang kini memandang media sosial sebagai hal buruk.

Masyarakat di negara-negara dengan tingkat ekonomi lebih tinggi, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, cenderung lebih percaya bahwa media sosial berdampak buruk terhadap demokrasi dibandingkan masyarakat di negara dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita lebih rendah, seperti Ghana, Kenya, dan Nigeria.

Amerika Serikat termasuk negara yang paling skeptis. Sebanyak 64 persen responden dewasa di AS mengatakan media sosial merugikan demokrasi. Persentase masyarakat yang menilai media sosial buruk bagi demokrasi juga meningkat di 16 dari 26 negara yang memiliki data survei sebelumnya untuk dibandingkan.*