Ilustrasi [Foto: Istimewa/internet]
RIAU1.COM - Setelah Pemerintah Kerajaan Belanda secara dejure mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947, Indonesia menyetujui para kompeni-kompeni ini menagih 4,3 juta Gulden ke kas mereka melalui Konferensi Meja Bundar (KMB).
Uang sebanyak itu diklaim lantaran mereka telah kehilangan 6 ribu orang prajuritnya saat masa penjajahan. Peristiwa licik tersebut disetujui saat penandatangan dan penyerahaan kekuasaan di Istana Dam Amsterdam, Belanda dinukil dari republika.co.id, Jumat, 27 Desember 2019.
Sejak saat itu, utang yang dicicil ini baru lunas pada masa pemerintahan Megawati tahun 2002. Dari 6 ribu orang korban pihak Belanda, dua pertiganya merupakan kaum pribumi yang bekerja sebagai tentara Belanda.
Dan lebih dari 2 ribu orang pasukan Belanda terkubur di Kerkhoff Banda Aceh. Kuburan Belanda ini yang terbesar di luar wilayah Belanda antara 1873-1905.
Perang Aceh dianggap paling melelahkan bagi Belanda untuk ukuran sebuah perang kolonial. Juga sebagai perang terbesar dalam sejarah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Ratu.
Bahkan perusahaan mereka VOC saat itu hampir bangkrut karena tak kuat lagi membiayai logistik perang di Aceh.
Belanda hampir saja menyerah, mereka tidak kuat lagi menghadapi orang Aceh. Mereka sampai mendatangkan pemikir dan ahli strategi termasuk Snouck Hougranye untuk mencari resolusi perang di Serambi Mekah tersebut.