Pemerintah Akui Kasus Influenza di Indonesia Melonjak

29 September 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Tapi, Kemenkes menyatakan situasi belum mengkhawatirkan. Kemenkes merujuk hasil surveilans hingga pekan ke-38 tahun 2026.

Dari data itu kondisi peningkatan influenza tersebut masih berada dalam rentang medium. "Memang ada kenaikan kasus influenza, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Tetapi berdasarkan data surveilans yang kita miliki, kondisinya masih dalam rentang medium," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers di Jakarta pada Selasa (29/9/2026) yang dimuat Republika.

Di Indonesia, hasil surveilans sentinel menunjukkan positivity rate influenza sebesar 56 persen pada pekan ke-38. Pada surveilans di puskesmas, aktivitas influenza telah berada pada kategori sedang (medium). Sedangkan pada surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah (low).

Menurut Budi, peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan. "Karena itu, yang kita lakukan adalah meningkatkan surveilans dan kesiapsiagaan agar perkembangan kasus dapat terus dipantau," ucapnya.

Dari data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus-September 2026, juga masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia. Pada pekan ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah Influenza A (H1N1pdm09).

Menurut Budi, Kemenkes turut memantau perkembangan Influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan di masyarakat dengan sebutan "superflu". Istilah superflu bukan merupakan nomenklatur resmi yang digunakan oleh WHO maupun CDC untuk menyebut subclade K. 

"Karena itu, perkembangan influenza perlu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan dan data surveilans, bukan semata-mata berdasarkan istilah yang beredar di masyarakat," ujar Budi. Dia menyatakan, data surveilans menunjukkan jumlah temuan subclade K pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk yang disebut sebagai ‘superflu’ atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans," kata Budi.

Berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI, sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 tahun 2026 tercatat 188 hasil pemeriksaan subclade K, dengan 166 temuan pada 2025 dan 22 temuan pada 2026. "Kemenkes tetap melakukan pemantauan terhadap subclade K melalui surveilans sentinel yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium/balai kekarantinaan kesehatan," ucap Budi.*