Ilustrasi kapal VOC (Foto: Istimewa/internet)
RIAU1.COM - Selama berabad-abad, Kerajaan Belanda tak pernah memasukkan sisitem perbudakan pada buku-buku pelajaran mereka.
Termasuk perbudakan yang mereka lakukan di Indonesia, Suriname, Antila dan lainnya dikutip dari historia.id, Minggu, 15 November 2020.
Padahal kenyataan bahwa Belanda selama berabad-abad terlibat dalam perdagangan budak yang terus dilupakan orang. Beberapa diantaranya seperti genosida, pemerasan, penipuan dan perampokan yang dilakukan VOC.
Dalam berbagai buku sejarah mereka sendiri, peran tercela VOC misalnya tidak atau tidak terlalu diperhatikan. Warga Belanda hanya diajarkan bahwa kongsi dagang VOC adalah suri teladan bagi ketegasan dan entrepeneurship.
Padahal, sejak awal 1600 VOC sudah membeli dan menggunakan orang-orang yang dijadikan budak.
Mereka digunakan untuk mengurus pembangunan markas, pos dagang dan benteng hingga aktivitas perdagangan.
Orang-orang yang dijadikan budak itu dikumpulkan oleh VOC di Asia, khususnya di wilayah-wilayah India, Sri Lanka, Malaysia, Filipina dan pulau-pulau Indonesia seperti Bali, Sulawesi dan Sumatra.
Tak hanya itu, VOC juga belanja budak di pasar budak Afrika Timur. Termasuk membeli tawanan perang di berbagai wilayah yang dilanda konflik.
Orang-orang yang diperbudak itu dibeli dalam harga yang sangat rendah untuk kemudian dijual di tempat lain dengan keuantungan tinggi atau digunakan sendiri sampai mati.
Budak-budak itu diangkut menggunakan kapal dengan jumlah 600 ribu sampai sejuta orang.
Sebagai pembanding, keseluruhan perdagangan budak di wilayah Barat diperkirakan mencapai antara 500 ribu dan 600 ribu orang.