Menelusuri Aktivitas Para Biksu Masa Lalu di Negeri Tanpa Bayangan

16 Juli 2022
Candi Muara Takus. Foto: Mamak Syaiful.

Candi Muara Takus. Foto: Mamak Syaiful.

RIAU1.COM -Candi Muara Takus merupakan salah satu objek wisata di Provinsi Riau. Candi ini terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar. 

Candi ini berjarak sekitar 135 kilometer dengan lama perjalanan 3 jam dari Kota Pekanbaru. Candi ini lebih dekat ke perbatasan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), salah satunya Kabupaten 50 Kota. 

Sebelum pandemi Covid-19 pada awal Maret 2020, Candi Muara Takus menjadi tempat ritual pada biksu dari negara Asia. Ritual diadakan saat Hari Waisak. 

Namun, candi ini dinilai kurang menarik bagi wisatawan domestik. Para pegiat wisata terus berupaya mempromosikan situs sejarah. 

Salah satunya, Syaiful alias Mamak. Ia merupakan pengusaha agen perjalanan wisata. 

Beberapa bulan lalu, Mamak dihubungi warga negara Australia. Mamak diminta menelusuri asal muasal, sejarah, tradisi warga di sekitar Candi Muara Takus. Hasil dokumentasi itu akan dipromosikan di Australia. 

Melihat peluang mendatangkan wisatawan asing ke Riau, Mamak bersama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo melakukan survei ke lokasi. Mamak dan personel BAKTI Kominfo mempelajari berbagai hal secara mendetail. 

Mamak juga menyusun urutan kegiatan wisata bagi wisatawan asing secara bertahap berdasarkan survei langsung ke kompleks candi. Saat ini, hasil survei sudah selesai. Rangkaian tur telah disusun semenarik mungkin. 

Mamak menjabarkan hasil survei dan rencana rangkaian tur bagi wisatawan asal negara Australia pada 30 Juni 2022 di Pekanbaru. Ia mulai menceritakan sejarah Candi Muara Takus beserta tradisi masyarakat di desa sekitar Candi. 

"Candi Muara Takus memiliki nilai sejarah yang tinggi. Candi ini juga punya nilai tersendiri di sektor pariwisata," katanya memulai awal cerita. 

Bila membawa wisatawan hanya sekadar berkunjung ke situs Candi Muara Takus, maka tak akan menarik.

Bagi agen perjalanan pariwisata, sejarah itu hanya sebagai pembungkus. Karena, sejarah Candi Muara Takus begitu panjang, maka paket wisata berbasis sejarah dibuat per episode. 

"Satu paket perjalan wisata, satu episode, dan satu rangkaian sejarah," kata Mamak. 

Pasalnya, semua informasi sejarah sulit dipadukan dalam satu paket perjalanan wisata. Sehingga, setiap episode tema wisata sejarahnya akan berbeda. 

Menurut sejarah, Candi Muara Takus ini dibangun pada 632 Masehi. Candi Muara Takus ini merupakan pusat kebudayaan terbesar di Nusantara. Dulu, kawasan Candi ini merupakan pusat kebudayaan dan universitas ilmu Buddha, Hindu, dan Jainisme (agama yang mengajarkan jalan menuju kemurnian dan pencerahan spritual tanpa melukai semua makhluk hidup). 

Dulu, Kompleks Candi Muara Takus ini ada fakultas bela diri, fakultas semedi, dan fakultas lain yang berhubungan dengan keagamaan. Kerajaan Sriwijaya juga dimulai dari Candi Muara Takus. 

Jika dilihat dengan alat Global Positioning System (GPS) Garmin, titik koordinat Candi Muara Takus itu tepat berada di tengah pulau Sumatera. Bayangkan, manusia zaman dahulu sudah bisa menentukan pusat pulau Sumatera dengan keahliannya saat itu.

Dulu, Muara Takus itu bernama Muongtokui. Wilayah Muara Takus ini luas hingga Gunung Sahilan. Para Biksu datang ke Muongtokui melalui Sungai Kopu. 

"Kini, kita kembali ke awal orang masa lalu menemukan lokasi untuk Candi Muara Takus. Hal itu dimulai dari Sungai Kopu," ucap Mamak. 

Sungai Kopu digunakan untuk lalu lintas antara Sumbar dengan Riau. Hasil gambir dan emas dari Sumbar dibawa melalui Sungai Kopu. Orang Muara Takus itu nenek moyangnya dari Sumbar. 

Sebenarnya, Candi Muara Takus itu menarik dikunjungi. Karena, pinggiran sungai Kopu itu banyak bebatuan. 

Sepanjang sungai Kopu banyak peninggalan sejarah masyarakat setempat yang menarik bagi wisatawan. Salah satunya adalah tradisi maawuik, menangkap ikan dengan membentangkan jala ke kedua sisi sungai. 

Wisatawan bisa melihat tradisi ini orang masa lampau. Kemudian, wisatawan dibawa ke pos pemeriksaan atau imigrasi di masa itu. 

"Bekas bangunan pos imigrasi masih ada sampai saat ini. Pos ini merupakan lokasi karantina para biksu sebelum masuk ke kawasan candi. Di sebelah pusat karantina itu, ada sebuah pasar," terang Mamak. 

Di sebelah kompleks candi, ada sebuah kota yang sudah tertimbun tanah dan menjadi kebun. Sementara, bangunan Candi Muara Takus yang ada saat ini merupakan bagian paling atas.

"Jadi, saya ingin membawa pikiran wisatawan ke masa lampau. Sehingga, wisatawan bisa merasakan kejadian masa lampau saat sekarang ini. Seorang narator akan saya hadirkan guna menceritakan kejadian masa lampau itu kepada wisatawan," ucap Mamak. 

Dalam paket wisata sejarah ini juga dimasukkan unsur edukasi sosial budaya yaitu mengenal pencak silat khas Muara Takus. Orang dulu bersilat di kolong rumah pada malam hari. 

Para pesilat itu masih ada saat ini. Dalam konteks pariwisata, para pesilat itu dihadirkan dengan beraksi di dalam sungai. 

Makanan tradisional zaman dahulu masih ada seperti galamai yang mirip lempuk. Para pedagang menjual galamai di pangkalan sampan Sungai Kopu. Makanan ringan ini akan menjadi oleh-oleh bagi wisatawan.

"Inilah konsep pariwisata yang saya susun dengan melibatkan masyarakat lokal. Tak ada lagi sekadar mengunjungi candi," tutur Mamak. 

Wisatawan asing ingin unsur pengalaman sejarah dan keunikan objek wisata di Indonesia. Paket ini belum pernah dibuat oleh agen perjalanan wisata di Provinsi Riau.

Sebab, Candi Muara Takus dikenal bila ada kunjungan biksu yang biasanya datang saat Hari Waisak. Mereka berdoa dan melakukan ritual keagamaan di sekitar candi.

Tapi, para biksu dari seluruh negara Asia ini tak datang sejak dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. Sebenarnya, momen kedatangan para biksu dari seluruh negara Asia ini dapat dimanfaatkan oleh agen perjalanan wisata.

"Kawasan Desa Muara Takus ini dilewati titik ekuinoks. Sehingga tidak ada bayangan di waktu tertentu sekitar bulan Maret. Dengan demikian, Desa Muara Takus sering disebut dengan negeri tanpa bayangan," tutup Mamak.