Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni
RIAU1.COM - Provinsi Riau yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu daerah dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tinggi menunjukkan perubahan dalam penanganan kebakaran.
Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni menyebut posisi Riau dalam catatan hot spot dan fire spot tahun ini berada di urutan terakhir dibandingkan enam provinsi yang selama ini menjadi langganan karhutla.
Menhut RI, Raja Juli mengatakan perubahan tersebut menjadi perkembangan penting mengingat Riau secara historis memiliki rekam jejak panjang dalam persoalan karhutla dan asap. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan di Rumah Runding Restorasi, Bengkalis, Rabu (30/09/2029).
"Alhamdulillah dari enam provinsi yang langganan Karhutla, biasanya Riau langganan nomor satu. Kalau kita lihat sejarahnya track record, historical record Riau ini nomor satu. Saya sebagai orang Riau merasakan betapa sengsaranya ibu di masa-masa karhutla yang memang sangat tinggi di Riau," kata Raja Juli.
Dijelaskan, kondisi tahun ini menjadi perhatian karena Riau menghadapi periode yang disebut berada pada puncak El Nino. Namun, situasi karhutla yang terjadi justru tidak menunjukkan pola seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Bahkan tahun lalu saja rasanya lebih pekat asapnya ketimbang tahun ini padahal ini puncak El Nino. Nah sekarang saya kira semua pakar nasional maupun internasional yang sempat berinteraksi dengan saya, melihat bahwa Alhamdulillah Riau urutan hot spot dan fire spotnya nomor terakhir," jelasnya.
Menhut Raja Juli menilai kondisi tersebut tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor atau keberhasilan satu pihak. Menurut dia, penurunan ancaman karhutla merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan pemerintah hingga masyarakat.
"Tentu ini adalah rasa syukur kita, jawabannya tidak bisa singkat bahwa ini tanda Pak Plt Gubernurnya keren, Pak Pangdamnya keren, Pak Kapolda keren, Buk Bupati keren dan masyarakatnya juga keren. Tapi tentu tidak cukup hanya dengan memberikan jawaban sesimpel itu dan saya kira nanti akan banyak banyak saintis, ilmuwan yang akan melakukan studi ke Riau," ungkapnya.
Ia menerangkan salah satu bagian penting yang perlu dilihat adalah perubahan kondisi kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi kebakaran berulang. Kawasan tersebut mengalami degradasi gambut sebelum kemudian dilakukan proses pemulihan.
"Nah salah satu potongan jawaban terhadap kondisi hari ini saya kira adalah apa yang sedang kita saksikan pada saat sekarang ini. Dimana tadi disampaikan ini dulu (Tanjung Leban) adalah tempat kebakaran hutan berulang terjadi, terjadi degradasi gambut," terangnya.
Dituturkan, pemulihan kawasan menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran. Restorasi tidak hanya dilakukan dengan memulihkan lahan, tetapi juga melalui penanaman kembali vegetasi yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem dan kehidupan masyarakat setempat.
"Namun dengan kerjasama gotong royong, daerah yang terdegradasi ini, wilayah yang dulu menjadi tempat kebakaran hutan berulang sekarang berhasil direstorasi. Ada proses pemulihan yang luar biasa terjadi, ada revigitati menanam tanaman-tanaman endemik yang memang dikenal secara historis kultural oleh masyarakat di sini," tuturnya.
Selain vegetasi, pengelolaan tata air menjadi bagian yang dinilai penting dalam proses restorasi kawasan gambut. Raja Juli menyebut telah terdapat kesepakatan pengelolaan tata air melalui sistem water sharing di kawasan seluas 2.400 hektare.
"Terjadi kesepakatan untuk menjaga tata air yang baik, tadi dikatakan water sharing system yang sangat baik di 2.400 hektare kawasan di sini. Dan nampaknya inilah mungkin jawaban paling tidak sepotong jawaban yang kita jawab Yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tadi muncul di banyak kalangan kenapa Riau memiliki kemampuan yang luar biasa," pungkasnya.*