Jual Pupuk Tak Sesuai Label, Pengusaha di Solok Berurusan Diringkus Polisi

Jual Pupuk Tak Sesuai Label, Pengusaha di Solok Berurusan Diringkus Polisi

30 September 2022
barang bukti pupuk yang dijual tidak sesuai label/Foto:Langgam,id

barang bukti pupuk yang dijual tidak sesuai label/Foto:Langgam,id

RIAU1.COM - Polisi meringkus seorang pengusaha yang merupakan Direktur CV ATM Gresik berinisial AR (55) di Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar). AR diduga terlibat kasus produksi barang berupa pupuk yang tidak sesuai dengan label.

Atas penangkapan AR tersebut, polisi juga menyita sebanyak 13 ton pupuk dengan merek NT Phoska.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Dwi Sulistyawan seperti dimuat Langgam.id mengatakan, pupuk itu diproduksi oleh CV ATM Gresik di Jawa Timur. Kemudian dikirim ke sejumlah daerah, termasuk di Sumbar. “Keberadaan pupuk pertama sekali ditemukan di Kenagarian Inderapura, Kecamatan Pancung, Kabupaten Pesisir Selatan,” ujar Dwi saat jumpa pers bersama awak media di Mapolda Sumbar, Kamis (29/9/2022).

Setelah dikembangkan, kata Dwi, pupuk tersebut juga diperjualbelikan di Kabupaten Solok, lalu dilakukan penggeledahan pada 17 Agustus 2022. “Didapat 13 ton pupuk yang diproduksi tidak sesuai label. Barang bukti kemudian kami bawa ke Mapolda beserta pelaku,” ungkapnya.

Dwi menyebutkan, setelah dilakukan uji laboratorium, pelaku terbukti telah mengurangi kadar kandungan nitrogen 0,13 persen dan 0,14 persen kalium pada pupuk tersebut.

“Tersangka membenarkan bawah pupuk tersebut di produksi oleh CV. Gresik, Jawa Timur. Selanjutnya kita berkoordinasi dengan Ditreskrimsus Polda setempat,” paparnya.

Loading...

Lebih lanjut dijelaskan Dwi, tindakan yang dilakukan pelaku mengurangi kualitas pupuk agar bisa dijual lebih murah. Jika pupuk diproduksi sesuai yang tercantum pada label, maka akan memakan biaya tinggi.

“Tersangka mendistribusikan pupuk dan diperdagangan di Sumbar sejak tahun 2021. Setiap bulannya sebanyak 100 ton dengan harga Rp120 ribu sampai Rp150 ribu perkarung ukuran 50 kilogram,” ucap Dwi.

Dwi menegaskan, perbuatan pelaku telah merugikan masyarakat Sumbar yang mayoritas petani. “Ke depannya, kami akan terus mengawasi setiap pupuk yang masuk ke Sumbar,” sebut dia.*