Kawasan terdampak bencana di Agam
RIAU1.COM - Pemerintah Kabupaten Agam mengakhiri status tanggap darurat bencana alam dan menetapkan peralihan ke masa transisi menuju pemulihan selama enam bulan ke depan.
Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan penanganan bencana yang telah berlangsung sejak terjadinya musibah banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Agam.
Hal tersebut disampaikan Bupati Agam Benni Warlis saat memimpin rapat evaluasi pelaksanaan penanganan tanggap darurat bencana alam di aula kantor bupati, Senin (5/1) yang dimuat Hariansinggalang.
Dalam rapat itu dibahas perkembangan terkini penanganan bencana, dampak yang ditimbulkan, serta langkah-langkah strategis dalam peralihan dari masa tanggap darurat menuju masa transisi pemulihan.
Kepala Pelaksana BPBD Agam, Rahmat Lasmono, dalam laporannya menyampaikan hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tercatat sebanyak 165 orang.
Korban tersebut tersebar di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Malalak sebanyak 16 orang, Matur 1 orang, Tanjung Raya 10 orang, Palupuah 1 orang, Palembayan 136 orang, serta Ampek Nagari 1 orang.
Selain itu, masih terdapat 37 orang yang dinyatakan hilang. Dari total korban meninggal dunia, sebanyak 23 orang belum teridentifikasi, terdiri dari 18 jenazah utuh dan 5 bagian tubuh.
Rahmat Lasmono juga mengungkapkan jumlah warga terdampak yang mengungsi mencapai 3.246 jiwa. Para pengungsi saat ini menempati berbagai lokasi, seperti masjid, musala, serta rumah sanak keluarga.
Sementara itu, korban yang masih menjalani perawatan medis hingga kini tercatat sebanyak tiga orang dan dirawat di RSUD setempat.
Dari sisi kerusakan dan kerugian, dampak bencana di Kabupaten Agam diperkirakan mencapai lebih dari Rp6,5 triliun. Sebanyak 1.729 rumah dilaporkan rusak berat dan hanyut akibat bencana.
Data tersebut masih berpotensi bertambah, mengingat masih terdapat 14 rumah yang berada dalam kondisi terancam longsor. Saat ini, rumah-rumah yang mengalami kerusakan tengah menjalani proses verifikasi dan validasi oleh tim lapangan.
Selain permukiman, sektor pertanian juga mengalami kerugian yang cukup signifikan dengan nilai taksiran mencapai lebih dari Rp123 miliar. Kerusakan lahan pertanian ini turut berdampak pada perekonomian masyarakat di wilayah terdampak.
Terkait penanganan pascabencana, Pemerintah Kabupaten Agam telah merencanakan pembangunan hunian sementara (huntara) di lima kecamatan terdampak.*