Selasa, 10 Desember 2019

BISNIS

Arya Sinulingga Diangkat Jadi Staf Khusus Menteri BUMN, Singgung Soal Garuda-Sriwijaya

news24xx


Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga.  Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga.

RIAU1.COM - Arya Sinulingga dulu pernah menjadi Dirut Global TV dan Wakil Dirut INews TV serta salah seorang Ketua DPP Partai Perindo. 

Kini Mantan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Arya Sinulingga, ditunjuk menjadi staf khusus (stafsus) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir di bidang komunikasi publik.

"Iya ditunjuk sebagai staf khusus di bidang komunikasi publik, untuk membantu memulihkan narasi-narasi BUMN yang selama ini dipersepsikan kurang baik," kata Arya kepada CNBC Indonesia, Sabtu pagi (9/11/2019).

Baca Juga: Diduga Mencuri Lirik Lagunya, Genius Gugat Google Rp 700 Miliar

www.jualbuy.com 

Menurut Arya, agenda yang akan coba dikomunikasikan ialah bagaimana sorotan publik belakangan ini terkait dengan kinerja dan persepsi BUMN, mulai dari kinerja perusahaan pelat merah di pasar modal, kisruh kerja sama dengan swasta misalnya Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia, serta BUMN-BUMN lainnya.
 

 

"Misalnya Garuda, kesan yang ditangkap publik adalah, Garuda ini yang bersalah, ini kami mau coba benahi narasi-narasi sehingga publik bisa mendapatkan informasi yang sesuai. Ini kan Sriwijaya utangnya banyak, Garuda juga ada di pasar modal, artinya berpengaruh ke market. Ada nilai pasar, ada nilai wajar, kami coba komunikasikan ini," jelasnya.

Ia juga berkomitmen akan bekerja maksimal dan memperbaiki citra BUMN atau narasi di mata publik.

"Kami akan membenahi narasi-narasi di BUMN-BUMN supaya lebih baik kepada masyarakat."

Sebagai informasi, saat ini Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group jadi sorotan publik terkait dengan kerja sama dua maskapai penerbangan ini.
 

Jumat tadi malam (8/11/), kuasa hukum dan sekaligus salah seorang pemegang saham PT Sriwijaya Air, Yusril Ihza Mahendra, membenarkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan langkah untuk mengakhiri kerja sama manajemen (KSM) dengan Garuda Indonesia Grup.

Upaya ini berseberangan dengan hasil pertemuan kedua belah pihak yang diinisiasi oleh Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Kemaritiman dan Investasi, di kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Dalam pertemuan kemarin itu, perjanjian kerja sama yang berakhir 31 Oktober, akan diperpanjang 3 bulan ke depan.

Namun Yusril menjelaskan, pada Kamis malam di kantor Garuda, pihaknya semula mau menyelesaikan draf perpanjangan perjanjian kerja sama dengan GA Grup.

Akan tetapi karena deadlock dalam menyusun Board of Directors, maka dalam rapat Jum'at pagi (8/11/2019 para pemegang saham memutuskan untuk mengambil langkah menghentikan kerja sama manajemen dengan Garuda Grup.

Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, beberapa kewajiban itu Sriwijaya, tak hanya ke Garuda dan anak usahanya PT GMF Aero Asia Tbk/GMF sebesar Rp 810 miliar,  tapi juga BUMN lain.

Beberapa BUMN di antaranya PT Pertamina (Persero) sebesar Rp 942 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebanyak Rp 585 miliar, utang spare parts US$ 15 juta, dan kepada PT Angkasa Pura II (Persero) Rp 80 miliar, serta PT Angkasa Pura I (Persero) sebesar Rp 50 miliar.
 


Mengutip laporan keuangan konsolidasi Garuda Indonesia per Juni 2019 lalu, total piutang grup ini ke Sriwijaya Air bernilai sebesar US$ 118,79 juta atau setara dengan Rp 1,66 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Jumlah ini meningkat dua kali lipat dari akhir Desember 2018 yang senilai US$ 55,39 juta (Rp 775,55 miliar).

Lebih lanjut, Arya menegaskan dia sudah menerima surat keputusan pengangkatan dirinya dan sudah efektif. Dia mengatakan mundur dari semua jabatan di MNC Group dan Partai Perindo yang selama ini membesarkannya.

Baca Juga: Selain Konflik Garuda-Sriwijaya, Tren Melorotnya Penumpang Juga Bikin Jumlah Pesawat Menurun Saat Natal dan Tahun Baru

Iklan Riau1  

Ketika ditanya apakah perannya menggantikan staf khusus sebelumnya era Menteri BUMN Rini Soemarno, Wianda Pusponegoro, Arya tidak menjelaskan detail. "Saya belum tahu," katanya.

Arya sebelumnya berkarier secara profesional ekitar 12 tahun lebih di Grup MNC yang dibangun oleh taipan Hary Tanoesoedibjo, mulai dari sekretaris perusahaan hingga menjadi direktur di Global TV, MNC Investama, Wadirut iNews TV, Dirut IDX Channel, hingga direktur holding MNC. Di Perindo, Arya menjabat Ketua DPP Bidang Media dan Komunikasi Massa.

R1 Hee. 





Loading...