Gejalanya Sering Disangka Maag, Serangan Jantung Intai Anak Muda

15 Oktober 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Kasus kematian akibat serangan jantung mendadak kini tidak hanya dikaitkan dengan kelompok usia lanjut, namun juga mengintai kelompok usia produktif. Keterlambatan penanganan dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap gejala awal menjadi faktor yang kerap mempersempit peluang keselamatan korban.

Penyakit kardiovaskular hingga masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022. Di Indonesia, penyakit jantung dan strok juga masih menjadi penyebab kematian tertinggi.

Data tahun 2024 dari World Heart Federation menunjukkan sekitar 695.166 kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi di Indonesia pada 2024. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala, faktor risiko, serta penanganan dini penyakit jantung.

Pakar Ilmu Keperawatan sekaligus Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care Ul, Dr Masfuri, mengatakan sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan. Menurutnya, masyarakat sering kali keliru menafsirkan gejala awal sehingga kesempatan memperoleh pertolongan medis menjadi terlambat.

"Sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan, sehingga sering kali pertolongan medisny terlambat," kata dr Masfuri dalam keterangan tertulis, dikutip Republika, pada Kamis (14/10/2026).

Masfuri memaparkan gejala khas serangan jantung yang mendera dapat berupa nyeri dada sebelah kiri yang terasa seperti tertindih beban berat, rasa terbakar di ulu hati yang menjalar hingga ke rahang, bahu, atau lengan, keringat dingin, serta sesak napas yang muncul secara tiba-tiba. Sayangnya, menurut Masfuri, banyak orang menganggap gejala tersebut hanya sebagai masuk angin, gangguan lambung, atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari (burnout). Padahal, penundaan penanganan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar terhadap peluang keselamatan pasien.

"Sebagian besar pasien sebenarnya telah mengalami gejala peringatan sebelum serangan jantung terjadi. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa nyeri dada yang tidak biasa, sesak napas mendadak, atau keringat dingin bukanlah kondisi yang boleh disepelekan. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan," kata Masfuri.

Dalam dunia kegawatdaruratan jantung dikenal prinsip "time saving is life saving" atau waktu adalah nyawa. Masfuri mengatakan terdapat periode emas atau golden hour dalam rentang 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul.

Pada periode tersebut, tindakan medis yang cepat dapat membantu mencegah kerusakan permanen pada otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien. Jika menemukan orang dengan gejala serangan jantung, masyarakat dianjurkan untuk menghentikan seluruh aktivitas korban, memosisikannya dalam keadaan duduk bersandar, serta segera menghubungi layanan gawat darurat atau membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

Apabila korban kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal, tindakan pertolongan pertama menjadi sangat krusial. Masfuri mengimbau masyarakat untuk melakukan resusitasi jantung paru dengan menekan bagian tengah dada sebanyak 100-120 kali per menit.

"Jika tersedia, Automated External Defibrillator (AED) dapat digunakan sesuai petunjuk suara yang terdapat pada perangkat. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan CPR dini oleh masyarakat awam dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup korban hingga dua sampai tiga kali lipat sebelum tenaga medis tiba," kata dia.

Kementerian Kesehatan RI membagikan sejumlah langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat melihat kerabat atau orang di sekitar mengalami serangan jantung hingga tidak sadarkan diri. Pertama, pindahkan pasien ke tempat yang aman. Selanjutnya, segera hubungi layanan darurat 119 atau rumah sakit terdekat untuk meminta bantuan tenaga medis dan ambulans.

Jika pasien tidak sadarkan diri dan tidak bernapas secara normal, segera lakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau bantuan hidup dasar sesuai kemampuan dan pelatihan yang dimiliki, sembari menunggu bantuan medis tiba. Pasien kemudian harus segera dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk bantuan hidup lanjutan dan perawatan di rumah sakit. Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan peluang keselamatan pasien yang mengalami serangan jantung dapat meningkat.