Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja dinilai masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Mengacu pada Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sebanyak 15,5 juta dari 46 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental. Artinya, satu dari tiga remaja di Indonesia memiliki persoalan kesehatan mental.
Gangguan kesehatan mental yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah depresi. Data menunjukkan sekitar 2 persen anak dan remaja usia 15-24 tahun mengalami depresi. Yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 61 persen dari mereka memiliki pikiran untuk bunuh diri dalam kurun waktu satu bulan.
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dr Angga Wirahmadi mengatakan depresi pada remaja menjadi darurat kesehatan mental. Menurut temuannya, depresi pada anak lebih sering terjadi pada perempuan, remaja dengan tingkat pendidikan menengah, serta mereka yang tinggal di wilayah perkotaan.
"Tapi walaupun angka depresi ini termasuk tinggi, ternyata hanya 10 persen populasi usia muda ini yang mencari pertolongan ke dokter. Ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental," kata dr Angga dalam diskusi virtual yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dipantau di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Untuk itu, dr Angga mengajak orang tua untuk mengenali tanda-tanda depresi pada remaja sedari dini. Gejala awal yang sering muncul seperti minimnya keinginan untuk melakukan aktivitas, merasa rendah diri, merasa tidak berdaya, sulit tidur, kurang energi, kehilangan nafsu makan, hingga merasa dirinya tidak baik.
"Coba dipantau apakah anak menunjukkan gejala atau tanda yang tadi saya sampaikan. Jika ada, konsultasikan segera ke dokter untuk dievaluasi lebih lanjut," ujar dr Angga yang dimuat Republika.
Selain depresi, orang tua juga perlu mewaspadai gangguan ansietas atau kecemasan pada remaja. Menurut dr Angga, remaja yang mengalami kecemasan umumnya menunjukkan perilaku overthinking atau terlalu banyak memikirkan sesuatu, menghindari hal-hal yang tidak disukai, sering berkeringat, dan mengeluhkan sakit perut.
Tidak hanya itu, anak juga cenderung selalu membutuhkan ketenangan dari orang lain, terus bergerak karena merasa khawatir, mengalami sakit kepala, jantung berdebar, serta sulit tidur. la mengingatkan gejala depresi maupun keemasan sering kali sulit dibedakan dengan gangguan lainnya. Karena itu, dokter maupun tenaga kesehatan yang menangani pasien anak pun perl memahami cara mendeteksi gangguan kesehatan mental sejak dini.
"Jadi gejalanya sebenarnya agak sulit dibedakan dengan gangguan-gangguan lain. Sehingga kita sebagai dokter anak dan dokter yang berkecimpung atau melayani pasien anak tentunya harus tahu bagaimana cara mendeteksinya. Seperti tadi yang sudah dikatakan, banyak faktor yang berperan terhadap perkembangan remaja," kata dr Angga.
Menurut dr Angga, dukungan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekolah menjadi faktor penting dalam membentuk kesehatan mental remaja. Dukungan keluarga dan teman sebaya yang baik akan membantu remaja berkembang secara positif.
Sebaliknya, pergaulan dengan teman sebaya yang berperilaku buruk dapat memberikan pengaruh negatif. Karena itu, ia menilai remaja perlu berada dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan pertemanan yang sehat.
"Kesehatan mental remaja juga dipengaruhi oleh digitalisasi dan paparan iklan, media sosial, kondisi tinggal di lingkungan yang mengalami konflik atau pascabencana, kesultan mendapatkan akses makanan, hingga gaya hidup yang tidak sehat," kata dr Angga.
la mengatakan dampak gangguan kesehatan mental pada remaja tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Berbagai penelitian menunjukkan kesehatan mental pada usia 10-19 tahun berpengaruh terhadap kesehatan jangka panjang hingga usia 20-65 tahun.
Gangguan kesehatan mental dapat menghambat aktivitas sehari-hari, mengganggu hubungan dengan komunitas, meningkatkan risiko keterlibatan dalam tindak kejahatan, memengaruhi kesehatan secara mum, serta meningkatkan risiko migrain, tekanan darah tinggi, obesitas, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
"Jadi kesehatan mental remaja merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian agar masa depan generasi muda menjadi lebih baik," kata dr Angga.*