Penggunaan Ponsel Setelah Pukul 22.00 Ganggu Kualitas Tidur

22 Oktober 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Penggunaan ponsel pintar pada malam hari disebut dapat memengaruhi kualitas tidur remaja. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatric menemukan bahwa penggunaan ponsel setelah pukul 22.00 berkaitan dengan waktu tidur yang lebih larut, durasi tidur yang lebih pendek, hingga meningkatnya frekuensi terbangun pada malam hari.

"Temuan ini menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan ponsel pintar di malam hari, terutama setelah pukul 22.00 dan tepat sebelum waktu tidur, dapat membantu meningkatkan kualitas tidur pada remaja," kata pemimpin studi dari Seattle Children's Research Institute, dr Dimitri Christakis, dilansir Republika.co.id dari laman US Health, Rabu (21/10/2026).

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis data dari 425 anak dengan usia rata-rata hampir 15 tahun yang berpartisipasi dalam studi mengenai perkembangan otak remaja. Secara keseluruhan, mereka mengumpulkan data dari hampir 7600 malam tidur para peserta.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan ponsel lebih lama, mungkin terbangun kembali dalam waktu 30 menit setelah mulai tertidur. Peneliti juga menemukan hubungan antara durasi penggunaan ponsel dan perubahan pola tidur. Setiap tambahan satu menit penggunaan ponsel setelah pukul 22.00 berkaitan dengan berkurangnya total durasi tidur remaja.

Psikiater anak dan remaja sekaligus dokter spesialis kedokteran tidur di Northwell Health, dr Daniel Bigman, mengatakan penggunaan ponsel dapat menunda waktu tidur dan menyulitkan seseorang untuk memasuki kondisi tidur yang stabil.

Menurut Bigman, ada beberapa kemungkinan yang menjelaskan hubungan antara penggunaan ponsel dan gangguan tidur pada remaja. Pertama, aktivitas sebelum tidur terutama menggunakan gawai akan membuat tubuhnya terjaga dan sulit untuk tidur.

"Aktivitas apa pun sebelum waktu tidur akan mengurangi waktu tidur. Dan menggunakan ponsel bisa menjadi penyebab remaja susah tidur, hingga akhirnya tidur larut," kata Bigman.

Selain itu, ponsel dapat menstimulasi otak dan mengganggu kualitas tidur. Aktivitas seperti mengakses media sosial, menonton video, membaca pesan, serta menerima notifikasi dan paparan cahaya dapat membuat otak tetap waspada, padahal seharusnya mulai bersiap untuk beristirahat.

"Kita tahu bahwa cahaya merupakan komponen sensorik utama dalam mengatur siklus tidur-bangun. Cahaya itu sendiri dapat menggeser siklus tidur kita," kata Bigman.

Mengapa tidur sangat penting bagi tumbuh-kembang remaja? Tidur yang berkualitas penting bagi remaja karena berpengaruh terhadap kemampuan berkonsentrasi, mengelola emosi, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Bigman mengatakan tidur yang terfragmentasi atau tidak nyenyak dapat menurunkan kemampuan mempertahankan perhatian dan berkonsentrasi.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi performa, meningkatkan sifat mudah tersinggung, dan membuat remaja lebih reaktif secara emosional. Gangguan tidur juga dapat meningkatkan stres dan kecemasan, bahkan berkontribusi terhadap suasana hati yang depresi.

"Remaja bahkan dapat mengalami kantuk pada siang hari, penurunan motivasi, serta kesulitan mengendalikan impuls dan mengambil keputusan," kata Bigman.

Untuk mengurangi kebiasaan menggunakan ponsel hingga larut malam, Bigman menyarankan orang tua tidak langsung mengancam akan menyita ponsel anak remaja mereka. Orang tua dapat mendorong anak mengganti kebiasaan menggunakan ponsel menjelang tidur dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca membaca, mendengarkan musik, hingga stretching.

"Semua aktivitas itu diketahui dapat mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif untuk tidur," kata Bigman.*