Penyebab Muncul Uban pada Usia 20-an Menurut Dokter

29 Juni 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Menemukan sehelai rambut beruban saat baru menginjak usia 20-an atau mendadak sering lupa di mana menaruh kunci kendaraan saat memasuki kepala tiga, sering kali memicu kepanikan kecil dalam diri. Secara spontan, muncul kekhawatiran apakah tubuh dan otak kita sedang mengalami proses penuaan dini yang berjalan lebih cepat dari seharusnya.

Di era modern dengan ritme hidup yang serbacepat, kecemasan seperti ini menjadi topik yang kian sering diperbincangkan. Namun, para ahli saraf atau neurolog menyebut fenomena uban pada usia muda atau kabut otak (brain fog) di usia 30-an tidak selalu menjadi sinyal bahaya bahwa kamu menua sebelum waktunya. 

Meskipun demikian, stres kronis yang tidak dikelola memang memiliki andil dalam mengacaukan berbagai proses biologis yang mendukung penuaan sehat. Selain stres, faktor genetika, nutrisi, pola tidur, dan kebiasaan hidup sehari-hari juga memegang peranan yang sangat krusial.

Konsultan Senior Neurologi dan Kepala Unit Klinis Penyakit Parkinson dan Gangguan Gerak di Fortis Hospital, Noida, dr Neha Pandita, menjelaskan bagaimana stres jangka panjang dapat mengacaukan berbagai sistem organ di dalam tubuh. Menurut dia, meskipun tanda-tanda ini tidak selalu berarti penuaan dini, stres kronis memang dapat memengaruhi beberapa proses biologis yang berkaitan dengan cara tubuh dan otak kita menua.

"Stres memicu respons alami tubuh untuk melawan atau menghindar (fight-or-flight), dengan melepaskan hormon-hormon yang mempersiapkan kita menghadapi tantangan mendesak. Namun, ketika stres tersebut berubah menjadi kronis, paparan hormon yang berkepanjangan ini dapat merusak kualitas tidur, meningkatkan peradangan, mengubah metabolisme, hingga menurunkan fungsi otak," kata dia dikutip Republika dari laman Hindustan Times pada Senin (29/6/2026).

Otak manusia merupakan salah satu organ yang paling rentan terhadap dampak negatif dari tekanan mental berkepanjangan. Menurut dr Pandita, area yang mengatur memori kita adalah yang paling pertama merasakan dampaknya.

"Tingginya kadar stres dapat memengaruhi area seperti hipokampus, yang merupakan pusat proses belajar dan memori. Dampaknya, seseorang bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, kelelahan mental, atau merasa daya ingatnya tidak lagi setajam dulu," kata dia.

Meski demikian, sifat pelupa yang sesekali muncul pada orang dewasa muda sebaiknya tidak langsung disalahartikan sebagai tanda penuaan dini pada otak. Dia mengingatkan, ada banyak faktor sehari-hari yang sering kali kita abaikan dan dituduh sebagai penuaan.

"Banyak anak muda yang mengeluhkan kondisi kabut otak (brain fog) sebenarnya sedang mengalami akumulasi dari kurang tidur, kejenuhan kerja (burnout), kekurangan nutrisi, serta stimulasi digital yang terus-menerus dari gawai mereka. Begitu pula dengan sifat pelupa yang sesekali muncul di usia 20-an atau 30-an, itu tidak selalu berarti otak menua lebih cepat. Daya ingat bisa terganggu akibat kurang tidur, kebiasaan melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking), stres emosional, atau sekadar karena gaya hidup yang terlalu sibuk," kata dia menjelaskan.

Lantas, bagaimana dengan urusan rambut yang memutih di usia kepala dua? Faktor genetika atau garis keturunan tetap menjadi penentu utama kapan uban pertama akan muncul. Namun, stres juga dapat ikut berkontribusi dengan memengaruhi sel-sel yang bertanggung jawab atas pigmentasi atau pewarnaan rambut.

Faktor genetika memang menjadi penentu utama munculnya uban di usia muda, tetapi stres juga dapat ikut ambil bagian dengan memengaruhi sel-sel yang bertanggung jawab atas warna rambut. Stres oksidatif yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralisirnya, merupakan salah satu mekanisme biologis yang terus diteliti para ahli terkait fenomena uban dini ini.

Kabar baiknya, tubuh memiliki kapasitas yang luar biasa untuk pulih dan beradaptasi jika kita mau mengubah kebiasaan buruk. Dokter Pandita mengatakan jalan keluar dari masalah ini sepenuhnya ada di tangan kita.

"Tubuh manusia memiliki kapasitas yang luar biasa untuk pulih dan beradaptasi. Otak kita punya kemampuan hebat untuk memperbaiki diri jika kita memberikan dukungan yang tepat, seperti tidur yang berkualitas, aktif bergerak secara fisik, terus mempelajari hal-hal baru, serta menjaga kesehatan emosional," ujarnya.

Menurut dia, penuaan biologis adalah proses yang sangat kompleks, dan stres hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang terlibat. Mengenali pola hidup yang tidak sehat sejak dini akan sangat membantu kita melindungi kesehatan fisik sekaligus ketajaman pikiran.

Membedakan lupa biasa dengan gejala medis

Kepala dan Konsultan Senior Neurofisiologi di Apollo Speciality Hospitals, OMR, Chennai, dr Sathish Kumar Venkatasamy, mengatakan masalah uban dini dan gangguan memori biasanya merupakan hasil dari akumulasi multidinamika faktor, bukan semata-mata karena satu hal saja.

"Munculnya uban di usia 20-an dan penurunan daya ingat di usia 30-an bisa jadi merupakan indikasi dari penuaan biologis yang lebih cepat. Walaupun stres kronis ikut berkontribusi dalam masalah ini, fenomena tersebut sebagian besar terjadi karena akumulasi dari faktor genetik, gaya hidup, asupan nutrisi, serta kondisi medis yang mendasarinya," ujarnya.

Secara medis, warna rambut yang memudar memiliki batasan usia tertentu sebelum dikategorikan sebagai masalah kesehatan atau murni genetika. Dokter Venkatasamy mengatakan rambut beruban dikatakan prematur jika muncul sebelum usia 20 tahun pada orang-orang berkulit terang, atau sebelum usia 30 tahun pada mereka yang memiliki warna kulit lebih gelap.

Faktor keturunan memegang peran paling dominan dalam hal ini, dan biasanya diikuti oleh riwayat keluarga yang kuat. Faktor pendukung lainnya meliputi kebiasaan merokok, kekurangan vitamin B12, tembaga, zat besi, dan folat, serta adanya penyakit autoimun, gangguan tiroid, hingga stres psikologis yang berkepanjangan.

Terkait dengan masalah daya ingat di usia 30-an, dr Venkatasamy menyebut keluhan mudah lupa pada usia dewasa muda sangat jarang disebabkan oleh penyakit demensia atau pikun yang parah. Sebagian besar keluhan tersebut merupakan bentuk kabut otak yang dipicu oleh hal-hal yang sebenarnya bisa diperbaiki.

"Kondisi ini lebih sering berupa kabut otak (brain fog) yang dipicu oleh kurang tidur, stres kronis, kecemasan, depresi, konsumsi alkohol, kekurangan vitamin, gangguan fungsi tiroid, atau efek samping obat-obatan. Stres dapat mengacaukan proses perhatian, konsentrasi, dan memori kita, sementara kurang tidur akan membuat kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk," kata dia.

Penelitian terbaru memperkuat bukti bahwa kebiasaan hidup yang buruk dapat mempercepat jam biologis tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan stres kronis dapat memengaruhi sel punca melanosit yang bertugas mengatur pigmen warna rambut, sehingga memicu uban dini.

"Namun, stres sendirian tidak bisa menjadi satu-satunya penyebab uban dini dan sifat mudah lupa. Kebiasaan merokok, pola makan yang buruk, malas bergerak, dan kurang tidur secara kolektif terbukti mengakselerasi penuaan biologis seseorang," ujar dr Venkatasamy.

Kapan sebaiknya mulai waspada dan berkonsultasi dengan dokter?

Evaluasi medis secara menyeluruh menjadi sangat penting jika merasakan penurunan daya ingat yang terjadi secara terus-menerus dan mulai mengganggu produktivitas. Dia mengatakan pasien yang merasakan penurunan daya ingat yang terjadi secara progresif (makin lama makin memburuk), terutama jika sudah disertai dengan rasa lelah yang ekstrem, perubahan suasana hati, fluktuasi berat badan, sensasi mati rasa, atau penurunan performa kerja, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis.

"Evaluasi awal biasanya akan meliputi tes laboratorium untuk memeriksa fungsi tiroid, kadar vitamin B12, zat besi, dan folat, serta penilaian terhadap kualitas tidur, tingkat stres, kecemasan, dan depresi," ujarnya.

Dokter Venkatasamy mengatakan langkah pencegahan yang efektif meliputi pemenuhan waktu tidur yang berkualitas selama tujuh hingga sembilan jam, menerapkan pola makan seimbang yang kaya akan protein dan mikronutrien esensial, berolahraga secara teratur, menghindari rokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengelola stres melalui teknik relaksasi. 

Menurut dia, melalui diagnosis dini dan penanganan yang tepat terhadap penyebab-penyebab yang bersifat reversibel, kita dapat mengembalikan ketajaman fungsi kognitif otak sekaligus mendukung proses penuaan tubuh yang optimal dan sehat.