Kepala BBTMC Bersyukur Kabut Asap di Sumatera dan Kalimantan Berangsur Hilang

1 Oktober 2019
Kepala BPPT Hammam Riza memantau langsung Posko Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca atau Hujan Buatan untuk Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla Riau di Lanud Rusmin Noerjadin Pekanbaru, Riau, Kamis, 15 Agustus 2019. Foto: Istimewa.

Kepala BPPT Hammam Riza memantau langsung Posko Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca atau Hujan Buatan untuk Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla Riau di Lanud Rusmin Noerjadin Pekanbaru, Riau, Kamis, 15 Agustus 2019. Foto: Istimewa.

RIAU1.COM -Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan terus melakukan pemantauan operasi hujan buatan di Sumatera dan Kalimantan. Pemantauan dilakukan melalui sejumlah Posko Operasi TMC.

"Kami terus pantau akuntabilitas keberhasilan operasi TMC dari beberapa Posko TMC BBTMC-BPPT," kata Kepala BBTMC BPPT Tri Handoko Seto dilansir dari Tempo.co, Selasa (1/10/2019).

Setelah beberapa bulan melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui optimalisasi operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan, sejumlah wilayah terdampak pun kini mulai mengalami peningkatan kualitas udara. Ada beberapa aspek yang menjadi acuan BBTMC BPPT dalam melihat perkembangan kualitas udara serta intensitas curah hujan yang terjadi setelah optimalisasi operasi TMC.

"Melalui data stasiun meteorologi untuk kondisi cuaca dan visibility per jam dari seluruh stasiun tiap wilayah. Data hotspot juga, selain data curah hujan dan volume air selama operasi TMC berlangsung tentunya," kata Seto.

Sementara itu, Kepala BPPT Hammam Riza menyatakan rasa syukur atas upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dipandang banyak pihak telah berkontribusi positif dalam penanganan kabut asap akibat Karhutla.

"Alhamdulillah, kabut asap yang sebelumnya melanda sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan saat ini berangsur hilang ya. Itu terjadi karena selama beberapa hari terakhir ini, hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur sejumlah daerah yang mengalami karhutla," ujar Hammam.

Hasil operasi TMC ini juga berdampak pada mulai turunnya jumlah titik api atau hotspot serta membaiknya jarak pandang di wilayah terdampak karhutla.

"Jumlah titik hotspot pun mulai berkurang ya dan bagusnya sekarang jarak pandang sudah mulai kembali normal. Artinya, masyarakat sudah mulai bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa," jelas Hammam.

Lebih lanjut Hammam menekankan bahwa dalam mengatasi bencana ini, BPPT terus melakukan sinergi dengan lembaga terkait lainnya, yakni Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI AU, dan unsur terkait lainnya.

"Kami akan terus memantau wilayah-wilayah tersebut untuk mengantisipasi agar hotspot tidak bertambah, dan kami akan tetap bersinergi dengan unsur terkait," tutupnya.