Penyebab Minyakita Langka di Sejumlah Daerah kata Menko Pangan

23 April 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab kelangkaan Minyakita yang belakangan ini dikeluhkan masyarakat di sejumlah daerah. Dia menyebut fenomena ini dipicu karena adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini tidak lagi terbatas di pasar tradisional.

Banyak kalangan masyarakat yang memburu Minyakita hingga merambah ke supermarket atau ritel modern. "Minyak itu sebetulnya untuk di pasar tradisional. Tapi sekarang semua orang belinya Minyakita, termasuk di supermarket-supermarket, tentu stoknya jadi kurang," kata Zulhas di Yogyakarta, Kamis (16/4/2026) yang dimuat Republika.co.id.

Zulhas menuturkan selisih harga antara Minyakita dan merek minyak premium sebenarnya juga tergolong tipis, yakni mulai Rp 16.000 hingga Rp 17.000 untuk kategori minyak premium. Menurut dia, retail modern seharusnya didominasi merek-merek minyak goreng premium dengan pasar konsumen tersendiri.

Meski demikian, Zulhas memastikan ketersediaan minyak goreng secara nasional masih cukup, meski ia memberikan catatan khusus untuk merek subsidi tersebut. Sebagai langkah antisipasi ke depan, pemerintah akan kembali memfokuskan distribusi Minyakita khusus ke pasar tradisional untuk memastikan ketersediaannya bagi masyarakat paling membutuhkan.

"Minyak cukup, minyak goreng cukup," ujarnya.

"Kalau Minyakita adanya difokuskan ke pasar tradisional," kata dia menambahkan.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menemukan lonjakan konsumsi MinyaKita saat meninjau Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026). Menurut dia, peningkatan permintaan ini dipicu kenaikan harga plastik yang mendorong peralihan konsumsi dari minyak curah. Ia bersama jajaran Bulog, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Selatan, serta Perumda Pasar Jaya melakukan inspeksi untuk memastikan harga dan pasokan pangan tetap terjaga di tingkat pasar.

Ia menilai lonjakan permintaan tersebut membuat ketersediaan Minyakita di pasar perlu segera ditambah agar tidak memicu tekanan harga di tingkat konsumen. Oleh karena itu, Bulog telah mengajukan tambahan kuota Minyakita ke Kementerian Perdagangan untuk memenuhi kebutuhan nasional, khususnya di pasar tradisional dan jaringan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SP2KP).

"Setelah Ramadhan dan Idul Fitri selesai, distribusi kita dorong kembali ke pasar SP2KP," ujar Rizal.

Penguatan distribusi ini dilakukan setelah sebelumnya pasokan Minyakita diprioritaskan untuk program bantuan pangan selama Ramadhan dan Idul Fitri sehingga suplai di pasar sempat berkurang.*