Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan seiring besarnya pasar domestik. Namun, pelaku industri melihat adanya persoalan lain yang mulai menekan kinerja sektor tersebut, yakni pelemahan pertumbuhan konsumsi masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta mengatakan, pertumbuhan konsumsi masyarakat terus melambat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut turut berdampak pada pertumbuhan konsumsi produk TPT.
"Kalau dilihat dari tren konsumsi, memang terjadi pelemahan pertumbuhan. Sebelum covid rata-rata konsumsi masyarakat selalu tumbuh sekitar 6,5%, turun terus dan saat ini hanya di kisaran 5%," kata Redma kepada CNBC Indonesia, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap konsumsi tidak hanya berasal dari satu jenis kebutuhan. Kenaikan harga pangan alias sembako dan kebutuhan sehari-hari lainnya justru menjadi faktor yang lebih terasa dalam menggeser pola konsumsi masyarakat, termasuk konsumsi produk TPT.
"Kenaikan harga pangan dan kebutuhan lainnya telah menggeser pertumbuhan konsumsi TPT dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Redma mengatakan, pergeseran tersebut tercermin dari pertumbuhan konsumsi yang sebelumnya mampu mencapai sekitar 6,5% per tahun, tetapi kini hanya berada di kisaran 5%.
"Pergeserannya terlihat dari pertumbuhan konsumsi yang biasanya 6,5% per tahun, saat ini hanya sekitar 5%," sebut dia.
Dengan kondisi tersebut, besarnya pasar domestik Indonesia memang masih menjadi daya tarik bagi investasi industri TPT. Namun, pertumbuhan konsumsi yang melambat membuat potensi pasar tersebut tidak lagi tumbuh secepat sebelumnya.
Tekanan terhadap daya beli juga muncul dari meningkatnya berbagai kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah kenaikan biaya pendidikan yang belakangan tercermin dalam data inflasi.
Namun, Redma menilai dampak kenaikan biaya sekolah terhadap industri TPT kemungkinan tidak sebesar tekanan dari kebutuhan sehari-hari lainnya.
"Iya, salah satunya biaya sekolah. Tapi sepertinya biaya untuk keseharian, justru dampak dari biaya kebutuhan pokok seperti pangan dan transportasi yang lebih berpengaruh," ucap dia.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi industri TPT karena pakaian dan produk tekstil harus bersaing dengan kebutuhan rumah tangga lainnya dalam memperebutkan ruang belanja masyarakat.
Di tengah pelemahan pertumbuhan konsumsi, industri TPT masih berharap pasar domestik yang besar dapat menjadi penopang pertumbuhan. Namun, kemampuan masyarakat untuk meningkatkan belanja akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa kuat pertumbuhan industri ke depan.
Uang Sekolah Picu Inflasi
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.
Kenaikan paling tinggi di antara sejumlah komponen pendidikan terjadi pada biaya taman kanak-kanak (TK) yang naik 1,73%, disusul biaya bimbingan belajar (bimbel) sebesar 1,58% dan biaya sekolah dasar (SD) sebesar 1,17%.
Berdasarkan data BPS, kenaikan biaya TK pada Juli 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2025, biaya TK mengalami inflasi 1,59%, sementara pada Juli 2026 mencapai 1,73%.
Hal serupa terjadi pada sejumlah layanan pendidikan lain. Biaya bimbingan belajar tercatat naik 1,58% pada Juli 2026, meski angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 1,91%.
Sementara itu, biaya sekolah SD mengalami inflasi 1,17%, melandai dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 1,65%.
Di tengah pelemahan pertumbuhan konsumsi, industri TPT masih berharap pasar domestik yang besar dapat menjadi penopang pertumbuhan. Namun, kemampuan masyarakat untuk meningkatkan belanja akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa kuat pertumbuhan industri ke depan.*