Meski Tanpa Alat Tenun, Baju Melayu di Pekanbaru Terus Dijahit oleh Tangan-Tangan Tekun
Wawa Ediny memegang piagam penghargaan dari BRI di kiosnya, kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi, Pekanbaru, Riau. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Suasana lengang terlihat di kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi, tepian Sungai Siak, Kelurahan Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Tuan Kadi merupakan jabatan pemuka agama di Kerajaan Siak Sri Indrapura waktu itu.
Delapan kios berjejer di kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi. Hanya satu kios yang buka saat itu.
Kios ini dipakai dua pintu oleh pelaku usaha Ekraf Kampung Bandar. Di bagian teras terpajang pakai adat Melayu.
Bagian atas pakaian adat Melayu pria berwarna ungu terdapat tanjak berwarna yang sama. Tanjak merupakan penutup kepala bagi laki-laki Melayu pada momen-momen tertentu.
Sedangkan pakaian adat berwarna kuning merupakan pakaian adat wanita. Warga kuning identik dengan budaya Melayu.
Di samping sepasang baju adat Melayu ini, terdapat alat tenun yang sudah rusak. Beberapa benang sudah putus. Kayu-kayu alat tenun terjuntai di antara benang-benang.
Kios sederhana ini ditempati Wawa Ediny setiap hari. Puluhan baju khas Melayu yang elegan dan indah tersusun rapi di gantungan baju di dalam kios.
Ratusan pernak-pernik dan tas dengan motif tradisional Melayu tersusun rapi di tiang gantungan kecil. Sebuah piagam penghargaan tergantung di sudut ruangan. Penghargaan itu diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) kepada Wawa Ediny atas partispasinya dalam kegiatan Local Heroes 2020.
Wawa bercerita soal awal usahanya ini. Kios ini ditempatinya sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020.
Wanita paruh baya ini harus buka usaha sendiri dengan nama Ekraf Kampung Bandar. Usaha tempat bekerja sebelumnya, Rumah Tenun Kampung Bandar, tidak ada penjualan di masa Covid-19.
Rumah Tenun ini tak jauh dari kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi. Jelang masa Covid-19 berakhir pada pertengahan 2022, aktivitas pariwisata berangsur pulih.
Wisatawan mulai kembali berdatangan ke Pekanbaru, salah satunya ke Rumah Singgah Tuan Kadi. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pekanbaru ingin menghidupkan kembali kawasan Rumah Singgan Tuan Kadi. Para pelaku usaha yang berhubungan dengan pariwisata dicari dan didata.
"Kebetulan, saya cukup dekat dengan para pegawai Disbudpar sejak bekerja di Rumah Tenun. Mereka menawarkan agar saya mengisi kios yang sudah lama kosong di kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi," ungkap Wawa.
Ia menceritakan soal alat tenun yang sudah rusak itu. Alat tenun itu pernah digunakan. Sejak alat tenun rusak, Wawa tak pernah menenun lagi sampai sekarang.
"Kini, saya menjahit pakaian saja dan membuat tanjak. Tapi, saya lebih memilih untuk menjual atau memasarkan produk hasil teman-temannya di kios ini," katanya.
Produk teman-temannya berupa tanjak dan aksesori. Baju Singkap Melayu titipan teman-temannya dijual di kios ini.
Sedangkan baju adat disewakan untuk acara atau berswafoto di kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi. Tarif sewa baju adat Melayu hanya Rp30.000 saja.
Baju Melayu dapat dipakai hingga puas. Selain baju adat, terdapat juga baju Singkap Melayu.
Baju Singkap ini digaungkan oleh Pemko Pekanbaru. Kalau ada acara pemerintahan yang berhubungan dengan budaya Melayu, baju Singkap banyak dibeli.
Pembeli paling banyak adalah Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho dan para camat. Baju Singkap Melayu ini sedang diurus hak paten oleh Pemko Pekanbaru.
Atas usahanya tetap memproduksi baju Melayu, Wawa sempat mendapat piagam penghargaan dari Kantor Wilayah (Kanwil) Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 2020. Penghargaan itu terkait partispasinya dalam kegiatan Local Heroes 2020. Sejak saat itu, Wawa tak pernah berhubungan lagi dengan BRI.
"Saya hanya sekali mendapat pelatihan dari BRI. Saya masih bekerja di Rumah Tenun saat itu," pungkas Wawa.
Kesempatan berbeda, Regional CEO BRI Region 2 Pekanbaru Dian Kesuma Wardhana mengatakan, UMKM yang diberi pelatihan dibagi dalam klaster usaha. Kelompok usaha dibentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan, atau keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.
Klaster usaha dapat menghubungi mantri BRI di wilayah masing-masing. Agar, klaster usaha mendapat asesmen dan didaftarkan menjadi klaster binaan BRI.
"Manfaatnya, klaster usaha akan mendapat pelatihan, produk dan layanan BRI, serta bantuan sarana dan prasarana," jelas Dian.
Para pengrajin trandisional terus memproduksi pakaian khas Melayu. Karena, baju khas Melayu beserta tanjak banyak dipesan untuk acara tertentu.
Tak hanya itu, Pemko Pekanbaru juga mewajibkan para pegawainya mengenakan baju Singkap Melayu sekali sepekan. Baju Singkap ini yang hanya punya kancing pada bagian kerah dan lebih mirip jas untuk acara formal.