Tan Malaka (Foto: Istimewa/internet)
RIAU1.COM - Tokoh pergerakan Tan Malaka memiliki cara bagaimana memperkuat daya ingat untuk diterapkan oleh siapa saja.
Ilmu mempertajam daya ingat ini dinamakannya jembatan keledai dinukil dari historia.id, Kamis, 30 Januari 2020. Keberhasilan jembatan keledai sudah dia buktikan dan menghasilkan beberapa karya tulis.
Salah satu buku yang kini dapat dinikmati berjudul magnum opus-nya: Madilog saat dirinya dibuang ke Belanda pada 22 Maret 1922. Serta buku ekonomi, politik, muslihat perang, sains lainnya.
Alasan menggunakan jembatan keledai karena saat itu dia tidak memiliki referensi dalam menulis sebuah karya tulis. Terutama saat berada di pengasingan. Tan hanya dibekali buku-buku seperti kitab suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme. Juga buku perkara ekonomi dan politik liberalisme.
Lalu buku sosialisme, atau komunisme, riwayat dunia, serta buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik yang terpaksa dia tinggalkan karena ketika pergi ke Moskow dia harus melalui Polandia karena memusuhi komunisme.
Dalam kondisi seperti itu, Tan harus mengandalkan jembatan keledai yang sudah dia latih sejak sekolah Raja di Bukittinggi. Jembatan keledai adalah cara dia menghafalkan dengan mengingat kependekan intinya.
Tan menyontohkan, jika dua negara berperang, mana yang akan menang? Dia menggunakan jembatan keledai AFIAGUMMI. Huruf A berarti Armament (kekuatan udara, darat, dan laut).
Huruf A bisa membawa jembatan keledai lain mengenai forces (tentara) seperti ALS, yakni Air (udara), Land (darat) dan Sea (laut).
Sesudah membandingkan Armament kedua negara, dia menguji yang kedua, yakni Finance (keuangan). Sayangnya, dia tidak menjelaskan sisanya IAGUMMI.