Kala Film Kartun Doraemon Pernah Mengkritik Sistem Politik Pemerintahaan Jepang

4 Oktober 2020
Ilustrasi film Doraemon (Foto: Istimewa/internet)

Ilustrasi film Doraemon (Foto: Istimewa/internet)

RIAU1.COM - Bukan sekedar hiburan bagi anak-anak semata, salah satu animasi yang dikarang oleh Fujiko F. Fujio, Doraemon pernah mengkritik sistem politik pemerintahaan Jepang yang saat itu masih dibawah perintah Shinzo Abe.

Aksi tersebut terjadi di tahun 2014 di salah satu episodenya yang juga pernah tayang di era 1980an dikutip dari japanesestation.com, Minggu, 4 Oktober 2020.

Episode tersebut menyebabkan kegemparan di antara penonton melalui akun Twitter. Beberapa menganggap hal itu sebagai pesan politik serampangan yang tidak pantas untuk anak-anak dari Shinzo Abe karena terlalu memaksakan kehendaknya.

Tema tersebut mencuat ketika bibi Nobita membatalkan perjalanan karena adanya peningkatan pajak konsumsi. Nobita pun marah kepada parlemen di Jepang.

Doraemon secara langsung memberikan jawaban melalui sebuah alat bernama Diet Portabel yang mampu melewatkan undang-undang apapun dengan memasukkan rancangannya ke dalam atap alatnya.

RUU tersebut kemudian menjadi sebuah hukum seketika dan diakui secara nasional di Jepang dengan instan. Niat nakal Nobita lalu muncul. Ia pun mulai meloloskan segala macam hukum di dalam pikirannya. Salah satunya meningkatkan tunjangan anak-anak sampai 10 ribu yen.

Dia juga membuat UU untuk melarang pekerjaan rumah agar bisa membuat salah satu temannya, Shizuka dapat bermain bersamanya. Hingga akhirnya, Nobita malah menggunakan alat itu terlalu jauh dengan menurunkan harga di Jepang hingga 90 persen. Aksi ini lalu membuat semua toko lokal bangkrut.

Marah karena seluruh barang diserbu warga dan tidak ada barang-barang yang tersisa untuknya, ia pun memutuskan untuk mengeluarkan undang-undang baru untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Salah satunya Nobita akan memenangkan setiap permainan, Mereka yang membodohi Nobita akan dihajar sebanyak seratus kali sampai ulang tahun Nobita akan menjadi hari libur nasional.

Ia kemudian mencoba untuk memasukkan seluruh RUU baru tersebut ke dalam alat Doraemon tersebut.

Alat Doraemon pun mulai berteriak, Pemaksaan Suara! lalu seketika meledak dan hancur berkeping-keping dengan mengeluarkan suara Pembubaran! Dalam sistem parlementer.

Sikap ini merupakan bentuk dari pihak parlemen untuk dapat memutuskan melakukan pembubaran jika mereka kehilangan kepercayaan terhadap perdana menteri saat menjalankan roda pemerintahaan.