Kawasan terdampak karhutla di Riau
RIAU1.COM - Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera terus melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Provinsi Riau.
Hingga Ahad (31/5/2026) pukul 17.00 WIB, upaya pemadaman masih berlangsung di Rantau Bais Kabupaten Rokan Hilir, Sokoi Kabupaten Pelalawan, dan Kandis Kabupaten Siak, sementara lokasi kebakaran di Pasir Limau Kapas dinyatakan padam setelah lima hari penanganan intensif.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan kondisi lapangan masih menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari angin kencang, vegetasi kering yang mudah terbakar, hingga karakteristik lahan gambut yang menyulitkan proses pemadaman.
“Tim Manggala Agni terus bekerja maksimal di seluruh lokasi kebakaran. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang cukup menantang dan medan yang tidak mudah, personel tetap fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan,” ujar Ferdian, Minggu sore.
Di lokasi kebakaran Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir, operasi pemadaman dilakukan oleh Manggala Agni Daops V/Dumai. Pada siang hari, petugas sempat menghadapi kondisi yang cukup berat akibat tiupan angin kencang yang menyebabkan asap menjadi sangat pekat dan mempercepat pergerakan api di sejumlah titik.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara, luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 44 hektare. Mengingat luas area serta ketersediaan sumber air yang masih memungkinkan untuk mendukung operasi, jumlah personel akan ditambah pada Senin (1/6/2026).
“Di Rantau Bais, kondisi siang tadi cukup merepotkan karena angin bertiup cukup kencang sehingga asap menjadi sangat pekat. Besok pagi personel akan kami tambah untuk memperkuat upaya pemadaman mengingat luasan area dan sumber air yang masih tersedia,” kata Ferdian.
Sementara itu, di Sokoi, Kabupaten Pelalawan, pemadaman dilakukan oleh Manggala Agni Daops Rengat. Kebakaran terjadi pada kawasan dengan vegetasi berupa pakis-pakisan dan semak belukar di atas lahan gambut yang dikenal mudah menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Hujan ringan yang turun sekitar 30 menit pada siang hari belum memberikan dampak signifikan terhadap proses pemadaman. Karena itu, operasi akan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya untuk memastikan tidak ada titik api yang berkembang.
“Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman harus dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Hujan ringan yang terjadi siang tadi belum cukup membantu sehingga tim akan melanjutkan operasi besok,” ujarnya.
Di lokasi Kandis, Kabupaten Siak, operasi pemadaman telah memasuki hari kelima. Kondisi kebakaran dilaporkan semakin membaik setelah upaya pemadaman dan pendinginan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Meski demikian, petugas masih menemukan beberapa titik yang memerlukan penanganan lebih lanjut untuk mencegah munculnya api kembali. Untuk menjaga kondisi fisik dan efektivitas kerja di lapangan, Manggala Agni akan melakukan pergantian personel pada Senin pagi.
“Penanganan di Kandis menunjukkan perkembangan yang baik. Namun kami tetap berhati-hati dan akan melanjutkan pemadaman serta pendinginan. Besok dilakukan rolling personel agar stamina tim tetap terjaga selama operasi berlangsung,” jelas Ferdian.
Kabar baik datang dari Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, di mana operasi pemadaman yang telah berlangsung selama lima hari akhirnya berhasil dituntaskan. Hingga siang hari, petugas masih melakukan kegiatan mopping up atau pendinginan akhir serta pemeriksaan menyeluruh mengelilingi area bekas kebakaran guna memastikan tidak ada lagi bara yang tersisa.
Setelah lokasi dinyatakan aman, personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) yang sebelumnya dikerahkan di lokasi telah kembali ke markas untuk bersiaga menghadapi potensi kebakaran lainnya.
“Lokasi Pasir Limau Kapas sudah dinyatakan padam. Tim telah menyelesaikan mopping up terakhir dan melakukan pengecekan ulang di seluruh area kebakaran. Personel BKO kini kembali ke markas dan bersiaga untuk mendukung operasi apabila muncul kejadian baru,” ungkap Ferdian.*