Praktik pembuatan sabun cuci piring
RIAU1.COM - Proses pembelajaran bagi warga belajar di PKBM Rumah Kerlip Beriman, Desa Koto Tuo, tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik.
Melalui program PKM-PM KERLIP-QUEST, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) turut menghadirkan kegiatan life skill sebagai bagian tambahan dari pengalaman belajar warga belajar. Kegiatan tersebut diwujudkan melalui praktik pembuatan sabun cuci piring dan lilin aromaterapi yang dilakukan secara langsung bersama warga belajar.
Kegiatan life skill tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kondisi dan potensi yang ditemukan di lingkungan mitra. Berdasarkan survei yang dilakukan tim, aktivitas kuliner masyarakat di sekitar desa menghasilkan minyak jelantah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, pihak desa sebelumnya juga pernah mencoba membuat sabun cuci piring, tetapi hasilnya masih kurang berbusa dan belum mampu bersaing dengan produk yang tersedia di pasaran. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan tim untuk mengembangkan praktik pembuatan sabun dengan formulasi yang lebih sesuai.
Sementara itu, lilin aromaterapi dipilih sebagai bentuk lain dari keterampilan praktis yang dapat diperkenalkan kepada warga belajar. Minyak jelantah yang tersedia dapat diolah menjadi bahan dalam pembuatan lilin setelah melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
Pemilihan produk ini tidak semata-mata didasarkan pada peluang penjualan di lingkungan desa, tetapi juga sebagai alternatif kegiatan praktik yang memberikan pengalaman kepada warga belajar dalam mengolah bahan menjadi produk bernilai tambah.
“Kami memilih sabun cuci piring dan lilin aromaterapi karena keduanya cukup dekat dengan kondisi dan potensi yang ada di sekitar mitra. Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi praktik membuat produk, tetapi juga memberikan pengalaman life skill kepada warga belajar. Jadi, mereka bisa belajar melalui proses yang nyata dan menghasilkan sesuatu yang dapat mereka lihat dan gunakan,” ujar Husnul Qadri Habibullah, ketua tim PKM-PM KERLIP-QUEST.
Dalam pelaksanaannya, warga belajar diperkenalkan pada bahan, takaran, serta tahapan pembuatan produk secara bertahap. Pada praktik sabun cuci piring, warga belajar diarahkan untuk mengikuti proses pencampuran bahan sesuai takaran hingga menghasilkan sabun dengan karakteristik yang diharapkan.
Sementara pada praktik lilin aromaterapi, minyak jelantah terlebih dahulu melalui proses penghilangan bau dan penjernihan sebelum digunakan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan lilin.
Praktik tersebut juga tidak berdiri sendiri dari konsep pembelajaran KERLIP-QUEST. Warga belajar tetap mengikuti aktivitas pembelajaran dan memperoleh token atau reward berdasarkan keterlibatan mereka selama kegiatan.
Dengan demikian, keterampilan praktis ditempatkan sebagai pengalaman tambahan yang melengkapi pembelajaran akademik dan sistem gamifikasi yang diterapkan dalam program.
Selain memberikan pengalaman life skill, hasil praktik juga diarahkan untuk mendukung keberlanjutan program. Produk yang dihasilkan dapat dipasarkan secara terbatas sesuai dengan peluang yang tersedia, sementara hasil penjualan yang diperoleh dapat diputar kembali untuk mendukung pengadaan hadiah dalam sistem Warung Kerlip.
Mekanisme tersebut dirancang agar kebutuhan reward dalam pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan dari luar, tetapi memiliki sumber pendukung yang dapat dikembangkan oleh mitra.
Bagi tim KERLIP-QUEST, keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan program setelah pendampingan mahasiswa berakhir. Life skill tidak ditempatkan sebagai solusi utama terhadap persoalan pembelajaran, melainkan sebagai nilai tambah yang sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem pembelajaran.
Sementara itu, keberlanjutan operasional KERLIP-QUEST juga diarahkan melalui pelatihan tutor agar mampu mengelola sistem pembelajaran dan gamifikasi secara mandiri.
Melalui pendekatan tersebut, KERLIP-QUEST berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas bagi warga belajar PKBM Rumah Kerlip. Pembelajaran tidak hanya berhenti pada pemahaman materi akademik, tetapi juga memberi ruang bagi warga belajar untuk mencoba keterampilan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, kegiatan life skill dan pemanfaatan hasil produk diarahkan untuk menjadi nilai tambah yang dapat mendukung keberlanjutan kegiatan pembelajaran di PKBM.*
