Bahaya Abrasi, Dua Desa di Pulau Bengkalis Terancam Mengecil Jika Tidak Ditangani Maksimal

20 Februari 2026
Bahaya Abrasi, Dua Desa di Pulau Bengkalis Terancam Mengecil Jika Tidak Ditangani Maksimal

Bahaya Abrasi, Dua Desa di Pulau Bengkalis Terancam Mengecil Jika Tidak Ditangani Maksimal

RIAU1.COM -Pada setiap tahunnya, garis pantai di pulau Kabupaten Bengkalis provinsi Riau kian tergerus akibat lajunya arus dan gelombang selat melaka.

Ombak Selat Melaka yang tak pernah lelah menghantam daratan perlahan mengikis pesisir pantai pulau Bengkalis sehingga pulau ini semakin mengecil.

Hal ini membuat kekhawatiran masyarakat setempat apalagi perkebunan warga yang setiap tahunnya bisa dikatakan terus terkikis.

Abrasi di pulau Bengkalis bukan hanya sekadar ancaman terhadap lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi kian memburuk.

Apalagi, lahan warga terus kian menyusut, pepohonan tumbang, dan jarak antara laut dengan permukiman semakin dekat. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak agar kerusakan tidak semakin meluas.

Sementara, beberapa nelayan pinggiran di daerah Tanjung Jati pulau Bengkalis mengungkapkan bahwa lajunya abrasi dan tanah amblas membuat warga di Desa Prapat Tunggal dan Desa Simpang Ayam semakin khawatir.

Menurutnya, tanpa perlindungan pemecah gelombang, dampak abrasi dan tanah amblas dengan postur gambut ini akan terus bertambah dan memperparah dari tahun ke tahun.

“Abrasinya semakin banyak dan susah dilewati. Ditambah lagi, disepanjang areal pantai tidak ada penahan gelombang,"cerita Yamin warga Desa Simpang ayam, Jumat 20 Februari 2026.

Menurutnya, wilayah pesisir yang paling terdampak abrasi itu adalah berhadapan langsung ke Selat Melaka.

"Jarak pulau kita dengan Selat melaka (malaysia) kan tidak jauh. Jika masalah ini tetap tidak ditangani oleh pemerintah maka akan semakin berbahaya. Pulau kita akan semakin mengecil, ditambah lagi pelindung pantai tidak ada,"ungkapnya.

Menurutnya, letak geografis pulau Bengkalis berhadapan langsung dengan Selat Melaka malaysia membuat wilayah ini sangat rentan terhadap gelombang laut dan arus kuat.

"Tanpa penahan gelombang yang memadai, abrasi akan menjadi proses alam yang sulit dibendung,"ujarnya.

"Sebagai masyarakat pesisir, kami berharap pemerintah daerah maupun pusat agar segera merealisasikan pembangunan penahan gelombang. Bagi kami, struktur ini bukan hanya pelindung pantai, tetapi juga benteng terakhir yang bisa menjaga ruang hidup dan mata pencaharian,"bebernya.

"Jika tidak segera ditangani, abrasi di khawatirkan akan terus menggerus daratan pulau Bengkalis,"pungkasnya.