Prediksi Harga Emas Sepekan ke Depan

26 Juli 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Harga emas atau logam mulia mengalami fluktuasi dan cenderung menurun di tengah berbagai dinamika geopolitik dan geoekonomi global. Pada perdagangan pekan depan, komoditas safe haven tersebut diprediksi bergerak di kisaran Rp 2,44 juta hingga Rp 2,74 juta per gram.

Harga emas dunia pada akhir pekan ini tercatat ditutup pada level 4.053 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia berada di posisi Rp 2,62 juta per gram. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi, jika harga emas mengalami penurunan, level support pertama berada di 3.968 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia sebesar Rp 2,59 juta per gram.

Jika koreksi berlanjut, secara teknikal, level support kedua harga emas dunia berada di 3.871 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia sebesar Rp 2,44 juta per gram.

Sementara itu, jika harga melonjak, level resistance pertama harga emas dunia berada di 4.148 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia di posisi Rp 2,63 juta per gram. Apabila menguat lagi, level resistance kedua berada di 4.240 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia sebesar Rp 2,74 juta per gram.

“Jadi, kalau untuk emas dunia dalam sepekan itu kemungkinan support-nya di 3.871 dolar AS per troy ons, kemudian resistance-nya di 4.240 dolar AS per troy ons, jadi melebar. Logam mulianya di Rp 2,44 juta per gram, resistance-nya adalah Rp 2,74 juta per gram,” kata Ibrahim kepada wartawan, Ahad (26/7/2026) yang dimuat Republika.

Seiring dengan itu, indeks dolar AS tercatat pada akhir pekan ini ditutup pada level 101,47. Ibrahim memprediksi, pada sepekan ke depan level support indeks dolar AS berada di 100,40, sedangkan level resistance-nya di 102,40.

“Jadi, kisaran pergerakan sepekan ke depan untuk indeks dolar AS itu di 100,40–102,40, ada kenaikan dua poin,” tuturnya.

Sementara itu, mengenai harga minyak mentah dunia, pada akhir pekan ini posisinya ditutup di level 89,30 dolar AS per barel. Ibrahim memproyeksikan harga WTI crude oil sepekan ke depan berada di kisaran 82,60–102,80 dolar AS per barel.

“Apa yang membuat indeks dolar, WTI crude oil, kemudian harga emas dunia dan logam mulia berfluktuasi? Kita akan kembali ke fundamental. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, yakni geopolitik, kebijakan Bank Sentral AS, dan perang dagang,” ungkapnya.

Mengenai dinamika geopolitik, ia menerangkan perang di Timur Tengah terpantau meluas. Kelompok Houthi di Yaman, sekutu Iran, melakukan penyerangan terhadap bandara di Arab Saudi. Selain itu, dikabarkan Ukraina menyerang kapal yang membawa persenjataan dari Rusia menuju Iran di Laut Kaspia, yang menunjukkan keterlibatan Ukraina dalam dinamika konflik di kawasan tersebut.

“Ini mengindikasikan bahwa perang akan meluas, situasi perang akan melebar,” ujarnya.

Kendati terdapat jeda penghentian pertempuran antara Iran dan AS, Iran terus bersiaga karena ada kekhawatiran AS akan kembali melakukan serangan sporadis selama 12 hari berturut-turut.

“Faktor dari segi geopolitik ini berpengaruh terhadap kenaikan harga minyak mentah sehingga berdampak terhadap kenaikan harga gasoline di AS,” tuturnya.

Ibrahim menuturkan, ketika harga minyak mentah, terutama Brent, berada di atas 100 dolar AS per barel, AS sempat mengurangi intensitas serangannya terhadap Iran. Menurut dia, kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik menyebabkan harga avtur dan gasoline di AS meningkat, begitu pula harga bahan pokok, sehingga mendorong inflasi. Dengan demikian, dinamika tersebut turut dipengaruhi kebijakan politik di AS.

Kondisi tingginya harga bahan bakar serta meningkatnya inflasi disinyalir dapat menjadi senjata bagi Partai Demokrat untuk menghadapi pemerintahan Donald Trump dalam pemilu sela pada November 2026 mendatang. Saat ini, AS diketahui tengah melakukan sosialisasi, lobi, dan kampanye menjelang pemilihan anggota DPR AS pada pengujung tahun ini.

Sentimen berikutnya ialah kebijakan Bank Sentral AS. Pada pekan depan, Bank Sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan di tengah kondisi harga minyak yang terus meningkat dan inflasi yang masih tinggi. Kondisi tersebut memungkinkan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi.

“Kita lihat bahwa mempertahankan suku bunga tinggi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dolar AS,” tutur Ibrahim.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga diprediksi menaikkan suku bunga acuannya. Proyeksi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting yang tengah dicermati pasar.

“Ini yang ditakutkan oleh pasar. Harga indeks dolar, minyak mentah, emas dunia, dan logam mulia berfluktuasi. Rupiah pun kemungkinan besar akan mengalami pelemahan di atas Rp 18.000 per dolar AS. Ini akan menahan laju pelemahan harga logam mulia,” jelasnya.

Ibrahim menuturkan, nilai tukar rupiah diprediksi melemah karena menghadapi beban fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia yang melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026, yakni 70 dolar AS per barel. Tingginya harga minyak otomatis meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS sehingga rupiah tertekan.

Sentimen berikutnya ialah perang dagang. AS baru-baru ini memberlakukan tarif baru terhadap 60 negara mitra, termasuk Indonesia. Besaran tarif yang ditetapkan sekitar 10–12,5 persen.

“Ini kemungkinan besar akan memanaskan situasi di luar geopolitik,” kata dia.*