Kebiasaan Begadang Bisa Tingkatkan Risiko Strok dan Serangan Jantung

31 Januari 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa begadang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah jantung dan pembuluh darah. Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal American Heart Association, individu kerap begadang memiliki risiko 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau strok dibandingkan mereka yang terbiasa bangun pagi.

Penulis utama studi, Sina Kianersi dari Brigham and Women's Hospital dan Harvard Medical School, mengatakan orang dengan terbiasa begadang sering mengalami circadian misalignment, yaitu kondisi ketika jam biologis tubuh tidak selaras dengan siklus alami siang dan malam maupun dengan jadwal aktivitas harian.

"Orang yang suka begadang juga cenderung memiliki perilaku yang berdampak buruk pada kesehatan kardiovaskular, seperti kualitas pola makan yang lebih rendah, kebiasaan merokok, serta kurang tidur," kata Kianersi seperti dilansir Republika dari laman Euro News, Sabtu (31/1/2026).

Studi ini melibatkan lebih dari 300 ribu orang dewasa dengan usia rata-rata 57 tahun. Sekitar 8 persen partisipan mengidentifikasi diri sebagai yakni mereka yang biasa tidur sangat larut dan mencapai puncak aktivitas pada malam hari.

Para peneliti menilai kesehatan kardiovaskular berdasarkan sejumlah indikator, termasuk berat badan, kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah. Selain itu, mereka juga menilai kebiasaan gaya hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, tidak merokok, serta kualitas tidur.

Hasilnya menunjukkan orang yang terbisa begadang memiliki prevalensi 79 persen lebih tinggi mengalami kesehatan kardiovaskular yang buruk. Penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara kebiasaan tidur larut dan buruknya kesehatan jantung lebih kuat terjadi pada perempuan.

Meski demikian, para peneliti mencatat sejumlah keterbatasan dalam studi tersebut. Penentuan tipe kronotipe (apakah seseorang termasuk morning person atau bukan) hanya didasarkan pada laporan pada satu waktu tertentu, sehingga tidak sepenuhnya menangkap perubahan kebiasaan tidur seseorang.

Menanggapi temuan ini, Kristen Knutson, profesor di Northwestern University, Chicago, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan bahwa hasil studi ini dapat menjadi pertimbangan medis dalam mengatasi masalah jantung. 

"Temuan ini menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung sebagian besar dipicu oleh perilaku yang dapat dimodifikasi, seperti kurang tidur. Artinya, orang yang terbiasa begadang masih memiliki peluang untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular mereka," kata dia. 

Ia pun menekankan pentingnya menjaga gaya hidup sehat, serta perlunya program kesehatan yang ditargetkan khusus bagi individu yang cenderung aktif di malam hari guna membantu mengurangi risiko penyakit jantung.*