Lupa Itu kata Pakar Perlu Bagi Otak Manusia

28 Maret 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Mungkin kamu pernah merasakan momen membingungkan saat melangkah mantap ke sebuah ruangan, namun tiba-tiba mematung karena lupa apa yang sebenarnya ingin dicari. Atau mungkin, rasa kesal karena kunci kendaraan entah hilang di mana padahal baru saja ditaruh sekejap.

Perasaan ini sering kali memicu rasa konyol atau bahkan kecemasan akan kesehatan otak. Kabar baik dari dunia sains menunjukkan bahwa fenomena "lupa ingatan" sesaat ini bukan sekadar kegagalan sistem, melainkan bagian dari kecerdasan dan mekanisme kerja otak manusia yang sangat efisien.

Lupa selama ini cenderung mendapatkan reputasi buruk di masyarakat kita, di mana kemampuan mengingat segala hal dengan detail sering dipuja sebagai tolok ukur kecemerlangan. Sebaliknya, menjadi pelupa dianggap sebagai tanda penuaan atau kurang fokus yang memprihatinkan. Namun, para ahli saraf justru melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Lupa adalah fungsi alami dan penting yang dibutuhkan otak untuk tetap sehat dan mampu memproses informasi baru secara optimal.

Konsultan neurologi di Rumah Sakit Kailash, Greater Noida, India, dr Shishir Pandey, mengatakan lupa sebenarnya memiliki keuntungan evolusioner yang luar biasa bagi kelangsungan hidup manusia. 

“Lupa berfungsi sebagai fungsi otak yang memiliki keuntungan evolusioner, menurut penelitian ilmu saraf. Otak menggunakan sistem penyaringannya untuk menilai informasi yang masuk, yang menghasilkan pemilihan data vital sambil membuang wawasan yang kurang penting sepanjang aktivitas sehari-hari,” ujar dr Pandey menjelaskan yang dimuat Republika.

Bayangkan jika otak menyimpan setiap detail kecil tanpa henti, mulai dari warna setiap mobil yang lewat hingga wajah setiap orang asing di jalan. Kapasitas berpikir akan segera penuh dengan data visual yang tidak berguna.

Dengan membuang memori yang repetitif atau tidak relevan, otak menciptakan ruang bagi informasi yang benar-benar penting untuk pengambilan keputusan. Jadi, saat seseorang lupa di mana menaruh kaos kaki tetapi ingat jalan pulang, itu menandakan sistem filter otaknya sedang bekerja dengan sangat baik.

Meskipun lupa adalah hal wajar, terdapat beberapa faktor yang membuat frekuensinya meningkat secara signifikan. Dokter Pandey mencatat bahwa pilihan gaya hidup memegang peranan besar, salah satunya adalah pelemahan koneksi saraf yang terjadi saat seseorang berhenti mempelajari hal baru. Selain itu, ada fenomena "intervensi" di mana informasi baru yang masuk justru menimpa memori lama atau membuatnya lebih sulit untuk dipanggil kembali dari ingatan.

Faktor emosional dan fisik juga memicu hambatan memori ini. Stres dan kelelahan kronis menyebabkan kadar kortisol meningkat, yang secara langsung menghambat kemampuan otak untuk membuat dan mengakses memori baru. Kurang tidur juga menjadi faktor utama, karena saat tidur nyenyaklah otak melakukan konsolidasi memori, proses penting untuk mengubah ingatan jangka pendek menjadi jangka panjang yang lebih permanen.

Kapan lupa menjadi sesuatu yang harus dikhawatirkan?

Menurut dr Pandey, melupakan kunci atau nama kenalan sesekali adalah bagian standar dari fungsi kognitif yang normal. Namun, terdapat garis merah yang harus diwaspadai jika polanya mulai mengganggu rutinitas.

Beberapa tanda peringatan meliputi sering melupakan percakapan penting yang baru saja terjadi, kesulitan melakukan tugas rutin yang sudah sangat akrab, hingga perubahan nyata dalam kemampuan menilai situasi. Jika masalah memori sudah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari secara drastis, pemeriksaan terhadap kemungkinan penyakit Alzheimer atau gangguan kognitif ringan lainnya menjadi langkah yang sangat mendesak.

Untungnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperkuat daya ingat melalui langkah-langkah praktis. Dia sangat menyarankan untuk memprioritaskan tidur berkualitas selama tujuh hingga delapan jam agar proses konsolidasi memori berjalan maksimal. Mengganti aktivitas bermain ponsel sebelum tidur dengan membaca buku atau mengisi teka-teki silang juga efektif untuk melatih ketajaman otak secara konsisten.

Selain itu, aktivitas fisik rutin membantu meningkatkan sirkulasi darah ke area otak yang bertanggung jawab atas memori. Asupan nutrisi seperti asam lemak omega-3 dan antioksidan juga menjadi bahan bakar terbaik bagi kesehatan saraf.*