Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Di tengah menjamurnya tren gaya hidup sehat di media sosial seperti TikTok, literasi kesehatan menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up/MCU) sebagai langkah dasar memahami kondisi tubuh secara menyeluruh.
“MCU sangat perlu supaya kita tahu kondisi kesehatan, bisa deteksi dini kalau ada masalah, dan memprediksi langkah ke depan,” ujar Tjandra, Selasa (7/4/2026) dalam talkshow kesehatan yang digelar dalam rangka 50 tahun perjalanan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.
Dari hasil MCU boleh saja dicek ke mesin AI yang tersedia di ponsel atau laptop. "Jadi tanya ke ChatGPT atau AI boleh saja, tapi setelahnya verifikasi ke petugas kesehatan. Tidak menerima informasi tanpa memvalidasi ke mereka yang ahli di bidang kesehatan," katanya yang dimuat Republika.
Bukan cuma fenomena self-diagnose yang menjadi masalah. Konsumsi suplemen tanpa dasar ilmiah juga menjadi sorotan, apalagi bila konsumsi dilakukan sebatas karena mengikuti saran di media sosial.
Apoteker Apt Rupa Lesty, S Farm dari Apotek Alpro mengungkapkan maraknya penjualan obat dan suplemen di e-commerce membuka celah misinformasi sekaligus praktik penipuan.
“Harga murah sering bikin orang tergiur, padahal belum tentu produk itu valid. Pastikan ada izin edar BPOM dan beli di tempat yang terlisensi, termasuk tenaga kesehatannya,” ujarnya.
Menurut Lesty, konsumen saat ini sebenarnya sudah semakin kritis, terutama ibu-ibu yang cenderung banyak bertanya sebelum membeli produk kesehatan. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergoda klaim instan tanpa konsultasi.
“Jangan self-diagnose. Konsultasikan kebutuhan dengan tenaga kesehatan supaya dapat opsi yang sesuai,” tambahnya.
Sementara itu, ahli gizi sekaligus dosen Universitas Esa Unggul, Nazhif Gifari, menyoroti miskonsepsi umum dalam tren wellness, seperti mengganti konsumsi buah dan sayur dengan suplemen. “Sayur dan buah bukan hanya soal vitamin dan mineral, tapi juga serat dan zat gizi lain yang tidak bisa digantikan suplemen,” jelasnya.
Ia juga mengkritisi tren diet tinggi protein tanpa aktivitas fisik. “Tidak bisa berharap berotot hanya dari konsumsi protein tanpa olahraga. Jangan telan mentah-mentah informasi dari media sosial, harus berbasis evidence,” tegasnya.
Talkshow ini menggarisbawahi bahwa di era banjir informasi, kemampuan memilah mana yang berbasis sains dan mana yang sekadar tren menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat itu sendiri.
Dalam momentum Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk turut memperkuat pesan pentingnya kesehatan preventif melalui program pemeriksaan kesehatan gratis bagi 2.000 masyarakat di Pulau Jawa. Program ini merupakan bagian dari kampanye “50 Years of Health, 50 Years of You” dalam rangka perayaan 50 tahun perjalanan perusahaan.
Layanan ini menghadirkan pemeriksaan dasar seperti gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah melalui klinik keliling dan unit pop-up. Masyarakat juga mendapatkan konsultasi langsung dengan apoteker sebagai bagian dari edukasi kesehatan berbasis bukti.
Presiden Direktur Darya-Varia, dr Ian Kloer, menyatakan inisiatif ini bertujuan mendorong masyarakat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan. “Kami ingin memperluas akses layanan kesehatan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini,” ujarnya.
Selama lima dekade, Darya-Varia telah bertransformasi dari perusahaan farmasi menjadi penyedia solusi kesehatan terintegrasi. Berbagai inovasi terus dikembangkan, termasuk DiViLab, perangkat pemeriksaan kesehatan mandiri berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI), yang memungkinkan masyarakat memantau kondisi kesehatan secara praktis.*