Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Gorengan menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia saat berbuka puasa. Sayangnya, kebiasaan mengonsumsi gorengan ketika perut kosong setelah berpuasa seharian ternyata tidak dianjurkan dan sebaiknya dihindari karena berisiko mengganggu kesehatan pencernaan.
Pakar gizi masyarakat dari IPB University, Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi akibat proses penggorengan. Karenanya, dia tidak menganjurkan buka puasa dengan gorengan.
“Sebenarnya tidak dianjurkan untuk berbuka puasa dengan gorengan,” kata Karina dalam keterangan tertulis, dikutip Republika, pada Rabu (18/2/2026).
Karina menjelaskan, lemak merupakan zat gizi yang lebih sulit dicerna dibandingkan karbohidrat. “Gorengan ini kan digoreng berarti tinggi lemak. Nah, lemak itu termasuk sulit dicerna. Proses mencernanya dibandingkan dengan mencerna karbohidrat itu lebih lama,” kata dia.
Menurut Karina, setelah berpuasa seharian, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat cukup lama. Jika langsung menerima makanan tinggi lemak, sistem pencernaan harus bekerja lebih berat. Hal ini pada akhirnya meningkatkan risiko gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, dan mulas.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi gorengan saat perut kosong dapat memicu peningkatan asam lambung, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan lambung.
“Bayangin ya, perut yang kosong, asam lambungnya meningkat. Kalau orang yang punya asam lambung itu pasti perih banget rasanya,” kata dia.
Meski demikian, Karina menegaskan bahwa gorengan tidak sepenuhnya dilarang saat berbuka puasa. Asalkan, gorengan dikonsumsi setelah perut diisi air putih atau kurma terlebih dahulu. Selain itu, jumlah gorengan juga perlu dibatasi, karena konsumsi lemak berlebih berisiko menumpuk dalam tubuh dan dapat memicu obesitas.
“Kalau makanan gorengan tinggi lemak itu juga bisa berisiko kalau kita makan dalam jumlah yang banyak dan tidak bisa dikontrol setiap hari,” ujarnya.
Karina mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengontrol konsumsi gorengan saat berbuka puasa, tetapi juga dalam keseharian. Menurutnya, kebiasaan makan yang lebih sehat akan berdampak positif bagi kualitas kesehatan di masa mendatang.
Keluhan saat Ramadhan
Maag menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dikeluhkan selama awal puasa pada bulan Ramadhan. Menurut data internal Halodoc 2026, pada hari pertama puasa rata-rata keluhan maag dan gastroesophageal reflux disease (GERD) meningkat hingga 21 persen dibanding rata-rata pekanan sebelum puasa.
Lonjakan keluhan ini biasanya mencapai puncaknya pada hari ketiga puasa. Berkaca pada pengalaman tahun lalu, pembelian mandiri obat lambung pada pekan pertama Ramadhan melonjak hingga 65 persen. Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan tren serupa diperkirakan akan terjadi pada tahun ini.
"Dari analisa kami, memang keluhan maag dan GERD di awal puasa itu selalu meningkat. Puncaknya hari ketiga ya karena mungkin tubuh sedang adaptasi juga, dan sepertinya tren tahun ini juga tidak akan jauh dari data ini," kata Fibriyani dalam diskusi media di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Untuk mencegah keluhan maag dan GERD selama Ramadhan, Board of Medical Exellence Halodoc dr Irwan Heriyanto, memberikan beberapa tips yang bisa diterapkan. Pertama, saat hari pertama puasa masyarakat dianjurkan untuk sahur dengan menu kaya protein dan serat serta menghindari konsumsi mi instan. Lalu saat berbuka, pastikan makan secara perlahan dalam porsi dan bertahap.
"Pas hari pertama puasa karena masih adaptasi, banyak yang suka nggak sahur. Nah bagi penderita maag, sahur itu wajib, makannya juga jangan mie ya. Terus pas buka puasa, jangan lapar mata, segala dimakan, pelan-pelan aja bertahap," kata dr Irwan.
Kedua, mencukupi kebutuhan cairan tubuh menjadi hal penting agar maag dan GERD tidak kambuh. Selama puasa Ramadhan nanti, masyarakat disarankan untuk minum minimal 8 gelas atau sekitar dua liter air putih per hari.
"Pola minumnya ya 2-4-2. Jadi 2 gelas pas buka puasa, 4 gelas di antara waktu makan berat dan sebelum tidur, dan 2 gelas saat sahur. Jangan sampai dehidrasi, pastikan minum cukup," kata dia.
Tips berikutnya adalah memastikan waktu tidur yang cukup. Menurut dr Irwan, kurang tidur selama puasa dapat memicu kekambuhan maag atau memperparah GERD karena mengganggu ritme tubuh, meningkatkan stres, serta memengaruhi sistem pencernaan yang seharusnya beristirahat.
"Jadi maksimal jam 10 sudah tidurlah. Karena kan jam 3 Subuh sudah harus bangun ya buat persiapan sahur. Kalau tidur bisa dioptimalkan, kecil kemungkinannya maag atau GERD itu kambuh," kata dia lagi.*