Steve Chen, salah satu pendiri YouTube
RIAU1.COM - Salah satu pendiri YouTube yang turut membuka jalan bagi dunia digital justru menjadi sosok terbaru dari kalangan teknologi yang mengkritik maraknya video berdurasi pendek. Alasannya, konten-konten tersebut memiliki dampak buruk terhadap anak-anak.
Steve Chen, salah satu pendiri YouTube yang pernah menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) sebelum platform tersebut diakuisisi Google pada 2006, melontarkan kritik keras terhadap apa yang ia sebut sebagai “TikTok-ification” kehidupan digital.
Pandangan itu ia sampaikan dalam sebuah diskusi di Stanford Graduate School of Business yang dimuat Kumparan.
“Saya pikir TikTok itu hiburan, tapi murni hiburan,” ujar Chen sebagaimana dikutip Fortune. “Kontennya hanya untuk dinikmati sesaat.
Format yang semakin pendek ini pada akhirnya berujung pada rentang perhatian yang semakin pendek.”
Chen, yang memiliki dua anak bersama istrinya, Jamie Chen, mengaku tidak ingin anak-anaknya hanya mengonsumsi konten video pendek. Ia khawatir kebiasaan itu membuat mereka kesulitan menikmati tayangan berdurasi lebih panjang, bahkan sekadar menonton video lebih dari 15 menit.
Ia juga menuturkan, ada orang tua lain yang sengaja membiasakan anak-anak mereka menonton video berdurasi lebih panjang tanpa warna mencolok atau trik visual yang kerap dipakai untuk menarik perhatian pengguna, khususnya anak-anak. Menurut Chen, pendekatan tersebut terbukti efektif.
“Kalau sejak awal mereka tidak terpapar konten video pendek, mereka tetap bisa menikmati jenis konten lain yang mereka tonton,” katanya.
Chen menyebut, banyak perusahaan teknologi akhirnya berlomba-lomba menyediakan konten video pendek setelah popularitas TikTok meroket.
Namun kini, perusahaan-perusahaan tersebut dihadapkan pada dilema, antara menyeimbangkan dorongan monetisasi dan perebutan perhatian pengguna dengan kebutuhan menghadirkan konten yang benar-benar berguna.
Menurutnya, platform yang mendistribusikan video pendek, termasuk YouTube perusahaan yang ia dirikan, berpotensi menghadapi masalah kecanduan pengguna. Karena itu, ia mendorong adanya pengaman khusus bagi anak-anak, seperti pembatasan usia untuk aplikasi serta batasan durasi penggunaan.
Peringatan Chen menambah panjang daftar tokoh teknologi yang angkat bicara soal dampak media sosial terhadap anak. Sebelumnya, CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik X (dulu Twitter) Elon Musk juga menyampaikan kekhawatiran serupa.
Dalam sebuah wawancara podcast, Altman secara khusus menyoroti kebiasaan menggulir media sosial dan ledakan dopamin dari video pendek yang, menurutnya, kemungkinan besar mengacaukan perkembangan otak anak-anak secara sangat mendalam.
Elon Musk sendiri pernah mengatakan pada 2023 bahwa ia tidak menerapkan pembatasan media sosial bagi anak-anaknya. Namun, ia mengakui keputusan itu mungkin sebuah kesalahan dan mendorong para orang tua agar lebih aktif mengawasi kebiasaan bermedia sosial anak.
“Saya rasa, saya mungkin akan lebih membatasi penggunaan media sosial dan lebih memperhatikan apa yang mereka tonton,” ujar Musk. “Karena pada titik ini, anak-anak sebenarnya sedang diprogram oleh algoritma media sosial, entah kita setuju atau tidak.”
Lewat pernyataannya, Steve Chen menegaskan satu hal penting, bahkan para perintis teknologi yang membangun ekosistem digital hari ini mulai menyuarakan alarm. Video pendek memang menghibur, tetapi tanpa batasan, ia berpotensi menggerus kemampuan fokus anak, harga yang terlalu mahal untuk dibayar oleh generasi berikutnya.*