Sains Ungkap Bahaya Naksir Sepupu

21 Maret 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Lebaran selalu jadi momen reuni keluarga, tempat tawa dan kenangan lama kembali hidup. Tapi di balik hangatnya pertemuan, tak jarang muncul cerita asmara, terutama antara sepupu yang dulu jarang bertemu dan kini menjadi pangling.

Dari kisah-kisah inilah pertanyaan yang selalu ramai dicari tiap Lebaran muncul, yakni apakah boleh menikahi sepupu?

Jika dilihat dari sisi sains, jawabannya sebenarnya boleh, meski ada sejumlah hal penting yang perlu dipertimbangkan.

Dalam proses penciptaan manusia, seorang anak terbentuk dari dua gen berbeda, yakni dari ayah dan ibu. Mengacu pada riset "Keeping it in the family", jika seseorang menikah dengan pasangan yang tidak memiliki hubungan darah, maka perbedaan genetik ini justru membawa keuntungan.

Sebagai contoh, jika salah satu orang tua memiliki gen diabetes dan yang lainnya tidak, maka kemungkinan anak terhindar dari penyakit itu menjadi lebih besar.

Hal ini berbeda jika pernikahan terjadi antara kerabat dekat, seperti sepupu. Akibat memiliki kemiripan genetik, peluang bertemunya gen pembawa penyakit menjadi lebih tinggi.

CNBCIndonesia melansir laporan Business Insider berjudul "Is marrying your cousin actually dangerous?", jika dua genetik yang sama bertemu, maka risiko melahirkan anak dengan kelainan juga meningkat.

National Health Service (NHS) Inggris menyebut pernikahan sepupu meningkatkan resiko catat lahir dari 3% menjadi 6%. Lalu, dipaparkan juga kalau 100 bayi yang lahir dari pasangan sedarah terdapat 5-6 bayi yang cacat atau memiliki kelainan genetik.

Kelainan yang muncul pun tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga bisa berupa kebutaan, gangguan pendengaran, keterbelakangan mental, kelainan darah, hingga gangguan kemampuan kognitif.

Fenomena ini banyak terjadi di Pakistan. Dalam laporan Deutsche Welle, disebut bahwa pernikahan antar kerabat masih menjadi praktik umum di sana, didorong oleh faktor kepercayaan dan budaya.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa agama menganjurkan praktik tersebut. Di sisi lain, tekanan sosial juga membuat banyak orang sulit keluar dari tradisi ini. Tidak mengikuti kebiasaan bisa berujung pada pengucilan.

Akibatnya, praktik pernikahan sedarah terus berlangsung dan sulit diputus.

Data dari Departemen Kesehatan Pakistan menunjukkan sekitar 30.000 keluarga hidup dengan dugaan kelainan genetik. Lebih jauh, mutasi genetik yang terjadi telah mencapai lebih dari 1.000 jenis, dengan setidaknya 130 kasus telah tercatat secara resmi.

Dampaknya pun nyata. Salah satu sumber Deutsche Welle menceritakan anaknya mengalami gangguan perkembangan otak, sementara anak lainnya mengalami masalah bicara dan pendengaran.

Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat disimpulkan menikahi sepupu punya risiko besar dalam sains. Atas dasar itu, keputusan tersebut sebaiknya dipertimbangkan secara matang, terutama dari sisi kesehatan dan dampaknya bagi generasi berikutnya.*