Sisi Gelap Notifikasi Ponsel yang Merusak Otak Kita

25 Mei 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Di era digital saat ini, smartphone (ponsel pintar) telah merenggut ruang privasi manusia. Jika dahulu kabar atau gosip memerlukan waktu berjam-jam untuk sampai ke telinga kita, kini rentetan pesan singkat, surel, hingga notifikasi aplikasi makanan daring terus membombardir ponsel tanpa henti.

Sayangnya, rentetan bunyi "ping" dan getaran konstan ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman serius bagi kinerja otak kita.

Sejumlah penelitian terbaru di bidang sains perilaku mengungkap bahwa gangguan dari notifikasi ponsel berkorelasi kuat dengan kecanduan gawai, penurunan rentang perhatian, hingga melambatnya waktu respons manusia.

Riset yang dirilis dalam jurnal PLOS-One oleh tim psikolog dari University of Arkansas dan Plymouth University menguji sekelompok mahasiswa.

Mereka diminta menyelesaikan tes kognitif di tengah gangguan suara getaran ponsel dan suara kontrol dari komputer. Hasilnya, partisipan merespons tugas jauh lebih lambat saat diganggu oleh getaran ponsel dibandingkan dengan suara lainnya.

Liputan6.com mengutip laman BGR, Senin (25/6/2026), fenomena ini memperkuat studi tahun 2016 dari Catholic University of Korea yang diterbitkan dalam Computational Intelligence and Neuroscience.

Studi tersebut mencatat bahwa interupsi gawai memicu tingkat kesalahan yang lebih tinggi saat seseorang menyelesaikan tugas.

Distraksi 7 Detik yang Menguras Emosi
Dampak buruk gadget bahkan melangkah lebih jauh lagi. Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Computers in Human Behavior oleh tim peneliti asal Prancis berhasil mengukur dampak konkret dari gangguan ini.

Menerima satu saja notifikasi ponsel pintar menyebabkan penundaan pemrosesan kognitif otak rata-rata selama tujuh detik. Lebih mengejutkan lagi, stimulasi tersebut membuat pupil mata partisipan membesar, sebuah indikator biologis bawah sadar yang menunjukkan adanya lonjakan emosi, seperti rasa takut atau gairah.

Mengapa getaran ponsel lebih mendistraksi dibanding suara bising lain? Para ahli menyebutnya sebagai efek "relevansi persepsi tinggi". Manusia modern dikondisikan untuk menganggap getaran ponsel sebagai sesuatu yang mendesak, seperti urusan pekerjaan atau pengiriman barang.

Akibatnya, otak secara emosional terpicu untuk segera meninggalkan pekerjaan utama demi memeriksa gawai. 

Dilema Mematikan Notifikasi
Lantas, apakah mematikan fitur notifikasi menjadi solusi instan? Jawabannya ternyata tidak semudah itu.

Sebuah uji klinis acak tahun 2024 yang diterbitkan dalam jurnal Media Psychology memantau lebih dari 200 pengguna Android berusia 18–30 tahun. Setengah dari mereka diminta mematikan total notifikasi selama sepekan.

Hasilnya mengejutkan: tidak ada perbedaan signifikan pada durasi total penggunaan ponsel antara kelompok yang mematikan notifikasi dan yang tidak.

Mematikan notifikasi justru memicu masalah psikologis baru, yaitu Fear of Missing Out (FOMO) alias rasa takut ketinggalan informasi. Ketakutan ini memicu kecemasan akut yang tingkat distraksinya sama rusaknya dengan bunyi ponsel itu sendiri.

Coba Trik Sederhana Ini
Hingga saat ini, para ilmuwan belum menemukan jawaban tunggal untuk mengatasi lingkaran setan ini. Beberapa trik kecil bisa dicoba, seperti menjauhkan ponsel dari jangkauan pandangan mata atau menyibukkan diri dengan aktivitas fisik yang menyita fokus.

Namun, di tengah ketergantungan global terhadap teknologi, manusia tampaknya berada di posisi dilematis: terjebak dalam hubungan benci tapi rindu dengan ponsel mereka sendiri.*