Tentara Israel Hadapi Gelombang Bunuh Diri Usai Ikut Perang

27 April 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COMTentara Israel menghadapi gelombang bunuh diri yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara para prajuritnya tahun ini. Demikian dilaporkan surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz pada Ahad, dilansir Republika dari Irna. 

Laporan tersebut menyatakan bahwa lebih dari 10 tentara telah melakukan bunuh diri sejak awal tahun 2026. Ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam kasus-kasus tersebut bulan ini.

Secara total, menurut laporan tersebut, angka kasus bunuh diri yang tercatat, delapan terjadi  di tubuh tentara dan tiga di antara pasukan cadangan. Para analis menyebutnya sebagai puncak gunung es dari krisis yang lebih dalam sejak rezim melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023.

Tekanan politik yang meningkat terhadap tentara, di satu sisi, dan perang simultan di beberapa front telah memberikan pukulan serius kepada tentara Zionis.

Kondisi itu diperparah sejak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memulai perang  terhadap Iran untuk mempertahankan cengkeramannya, meski gagal menggapai tujuan.

Laporan mencatat, sejak dimulainya perang di Gaza pada 2023 silam, kasus masalah kesehatan mental di kalangan tentara Israel meningkat, dengan 21 kasus bunuh diri yang fatal dan 279 percobaan bunuh diri yang gagal  hanya pada 2025.

Sebuah laporan dari pusat penelitian parlemen Israel juga menunjukkan bahwa 78 persen dari semua kasus bunuh diri yang tercatat di Israel pada 2024 terkait dengan personel militer.

Layanan kesehatan buat mereka yang menghadapi masalah kesehatan mental telah diperluas. Anggaran pun ditingkatkan untuk mengobati trauma. Disebutkan ada kenaikan sekitar 50% dalam penggunaan pengobatan alternatif.

Penyedia layanan kesehatan terbesar kedua di negara itu, Maccabi, mengatakan dalam laporan tahunannya tahun 2025 bahwa 39% personel militer Israel yang berada di bawah perawatannya telah mencari dukungan kesehatan mental. Ssementara 26% telah menyuarakan kekhawatiran tentang depresi.

Beberapa organisasi Israel seperti LSM HaGal Sheli, yang menggunakan selancar sebagai teknik terapi, telah menangani ratusan tentara dan pasukan cadangan yang menderita PTSD.

Ronen Sidi, seorang psikolog klinis yang memimpin penelitian veteran tempur di Pusat Medis Emek di Israel utara, mengatakan bahwa tentara umumnya bergulat dengan dua sumber trauma yang berbeda.

Salah satu sumbernya terkait dengan pengalaman mendalam akan ketakutan dan "takut mati" saat bertugas di Gaza dan Lebanon.

Bahkan saat berada di rumah di Israel. Banyak yang menyaksikan langsung serangan Hamas di Israel selatan.

Sidi mengatakan sumber kedua berasal dari luka moral, atau kerusakan yang ditimbulkan pada hati nurani atau kompas moral seseorang akibat sesuatu yang mereka lakukan.

"Banyak keputusan sepersekian detik (para tentara) adalah keputusan yang mereka ambil di bawah tembakan, kemudian perempuan dan anak-anak terluka dan terbunuh secara tidak sengaja, dan hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang-orang yang tidak bersalah," ujarnya dilansir Reuters 

"Ini adalah perasaan yang sangat sulit dan Anda tidak dapat memperbaiki apa yang telah Anda lakukan," katanya menambahkan.

Seorang prajurit cadangan, Paul, seorang ayah berusia 28 tahun dengan tiga anak, mengatakan dia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan global karena "desingan peluru" di atas kepalanya masih terngiang bahkan setelah kembali ke rumah.

Paul, yang menolak menyebutkan nama belakangnya karena alasan privasi, mengatakan bahwa ia bertugas dalam peran tempur di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Meskipun pertempuran telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, ia mengatakan bahwa ia hidup dalam keadaan siaga terus-menerus.

"Saya hidup seperti itu setiap hari," kata Paul.*