Ilustrasi/Antara
RIAU1.COM - Direktur Haji Khusus dan Umrah Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Akhmad Fauzin meminta calon jamaah untuk menunda keberangkatan umrah di tengah eskalasi perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap jamaah, mengingat situasi geopolitik yang belum stabil dan berpotensi menimbulkan kendala di lapangan.
“Posisi kita sesuai keputusan untuk menunda atau menahan diri berangkat umrah guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Fauzin saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (5/3/2026).
Saat ditanya apakah kebijakan tersebut akan ditingkatkan menjadi larangan resmi, Fauzin menegaskan saat ini pemerintah masih sebatas mengimbau jamaah agar menunda keberangkatan.
“Iya, di sinilah agar menunda. Karena kalau memaksakan, jika bekal tidak cukup akan membuat problem di sana,” katanya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan sejak awal pihaknya dan Kementerian Luar Negeri juga telah mengeluarkan imbauan agar jamaah menunda keberangkatan guna mengantisipasi kemungkinan situasi yang tidak diinginkan.
“Kementerian Haji dan Umrah dan juga Kementerian Luar Negeri sudah mengimbau agar jamaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat ini menunda sementara keberangkatannya,” ucap Dahnil saat memberikan sambutan dalam acara "Konsolidasi Perhajian dan Umrah" di Gedung Utama Grand El Hajj, Asrama Haji Banten, Tangerang, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, jumlah jamaah yang dijadwalkan berangkat hingga batas akhir penutupan ibadah umrah pada awal April mencapai lebih dari 43 ribu orang.
“Sekitar April, lebih dari 43 ribu jamaah kita yang akan berangkat, terhitung mulai bulan ini sampai awal April. Itu yang terdata,” katanya.
Dahnil menambahkan, angka tersebut belum termasuk jamaah umrah mandiri yang tidak tercatat dalam sistem resmi kementerian. Jika dihitung secara keseluruhan, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 50 hingga 60 ribu orang.
“Kalau ditambah jamaah umrah mandiri dan lainnya, bisa jadi 50 sampai 60 ribu yang sudah bersiap berangkat,” katanya.
Karena itu, pemerintah memandang perlu mengambil langkah antisipatif demi keselamatan jamaah, terutama jika eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat.
“Nah itulah, untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan, apalagi eskalasi meningkat, maka imbauan untuk menunda sementara keberangkatan itu kami anjurkan,” kata Dahnil.*