Berbekal KUR BRI, Pendiri Haga Bakery Makin Sukses Bangun Usaha Setelah Keluar dari Perusahaan Roti

24 Juni 2026
Oktanus sedang memarut keju di atas kue yang sudah dipanggang. Foto: Surya/Riau1.

Oktanus sedang memarut keju di atas kue yang sudah dipanggang. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Seorang pria berkaus biru tampak tekun memarut keju dengan alat parut. Serpihan-serpihan keju jatuh di atas kue yang telah dipanggang. 

Ia mengenakan topi hitam yang dipakai terbalik, dengan bagian depan menghadap ke belakang. Mulut tertutup masker plastik. Dari luar, rumah pria tersebut tampak sederhana. Bangunan yang berada di Jalan Sentosa, Blok Q Nomor 10, Perumahan Alifa Residence, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani, itu tidak menunjukkan bahwa dari tempat itulah berbagai roti diproduksi setiap hari.

Di samping rumah itu terdapat tanah hook, yakni lahan sisa di sudut perumahan yang berada sisi bangunan. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk membangun dapur berukuran besar. Di bagian atas bangunan dapur, terbentang spanduk bertuliskan "Haga Bakery".

Dapurnya tampak cukup sederhana. Sebuah mesin oven berukuran besar tampak di bagian belakang. 

Oven itu bukan barang baru. Namun, alat tersebut telah menjadi penopang utama aktivitas di dapur pembuatan roti itu. Pria tersebut bekerja dibantu oleh salah seorang keluarganya. Berbagai jenis roti dengan aneka rasa diproduksi dalam jumlah cukup banyak setiap hari.

Pemilik usaha Haga Bakery ini bernama Oktanus Lahbele. Nama "Haga" berasal dari bahasa Nias yang berarti cahaya.

Usaha pembuatan roti ini dirintisnya sejak tiga tahun lalu. Okta memang pernah bekerja di perusahaan pembuatan roti sebelumnya.

"Setelah berhenti bekerja di perusahaan itu, saya mencoba membuka usaha roti sendiri. Saya juga mencari sendiri pemasok bahan baku," ungkapnya.

Sebagian besar bahan baku pembuatan roti diperolehnya dari toko-toko sekitar rumah. Okta bersama anggota keluarganya mengerjakan seluruh proses usaha mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga penjualan. Beragam produk roti dan kue dihasilkan dari dapur sederhana itu, seperti roti keju, roti cokelat, roti kopi bermentega, bolu, burger, hotdog, dan donat.

"Semua jenis roti saya buat sendiri. Jumlah roti yang saya produksi sekitar empat ratus sampai lima ratus buah dalam sehari," kata Okta.

Untuk memproduksi roti sebanyak itu, Okta membutuhkan sekitar 10 kilogram tepung dan telur 30 puluh butir setiap hari. Dari setiap satu kilogram tepung, ia dapat menghasilkan 50 buah roti. 

Proses pengolahan adonan roti memerlukan waktu dari pagi hingga malam sebelum siap dipanggang. Proses pemanggangan hanya sekitar 12 menit.

Hingga kini, Okta masih mempertahankan harga jual rotinya. Padahal, biaya produksi terus meningkat seiring kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram, gula, telur, dan plastik pembungkus roti.

"Saat pertama kali memulai usaha ini, saya menjual roti seharga Rp3.000 per buah. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya varian produk, harga jual roti berkisar antara Rp3.000 hingga Rp20.000 per buah saat ini," ujar Okta. 

Roti-roti produksi Haga Bakery dipasarkan di lapak milik Okta yang berada di Pasar Pagi Arengka, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Pekanbaru. Karena dijual langsung di pasar, harga roti disesuaikan dengan daya beli dan kondisi pasar. Roti mulai dipasarkan sejak pukul 03.00 WIB. Menjelang pukul 08.00 WIB, seluruh roti sudah habis terjual.

Memulai usaha dari bawah memang berat. Okta hanya bermodalkan peralatan seadanya ketika memulai usaha roti ini. 

Ketika permintaan roti mulai meningkat, Okta memberanikan diri mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada Agustus 2023. Sebagai agunan, ia menyerahkan sertifikat tanah.

Setelah melalui berbagai proses administrasi, pinjaman KUR BRI diterima dengan nilai Rp50 juta. Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu selama tiga tahun.

"Saya mampu melunasi pinjaman KUR itu dalam dua tahun. Setelah itu, saya kembali mengajukan KUR BRI dengan agunan yang sama. Kali ini, nilai pinjamannya sebesar Rp75 juta," ungkap Okta.

Sementara itu, Team Leader Reputation Management Team Corporate Secretary Group BRI Kantor Pusat Natalia Christanto mengatakan, KUR merupakan fasilitas pembiayaan yang diberikan BRI kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). KUR BRI ini guna mendukung pengembangan usaha para pelaku UMKM. Melalui KUR, pelaku UMKM dapat memberdayakan ekonominya. 

"Sehingga, mereka bisa bermanfaat buat masyarakat dan keluarganya," ujarnya.

Berawal dari sekadar mencoba membuka usaha roti, Okta akhirnya mampu mewujudkan mimpinya menjadi  seorang pengusaha. Ia memilih meninggalkan pekerjaannya di perusahaan roti untuk menempuh jalan yang berbeda, yaitu membangun usaha sendiri.