Johandri (33), salah seorang petani dari Kelompok Tani Mustang Lanud Roesmin Nurjadin sedang merawat sayuran yang diolahnya. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Deru pesawat yang hilir mudik di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru menjadi latar bunyi yang tak pernah benar-benar hilang dari kawasan Lanud Roesmin Nurjadin. Di balik riuhnya aktivitas penerbangan itu, terbentang hamparan hijau yang diolah oleh para petani dengan penuh ketekunan, adaptasi, dan harapan.
Di belakang SMP Negeri 8 Pekanbaru itu, lahan pertanian itu tampak tertata rapi. Aneka sayuran tumbuh dalam barisan teratur.
Sebagian terlindungi kelambu yang membentang luas seperti langit buatan. Di bawahnya, pipa-pipa mengalirkan air secara berkala menyirami tanaman dan menjaga kelembapan tanah.
Supaya, tanaman tumbuh dengan baik. Penyiraman hanya dilakukan pada petang hari. Agar, tanah tetap lembap menjelang malam.
Cahaya matahari menembus celah-celah jaring, memantul lembut di atas daun-daun muda bibit dan tanaman sayuran. Seorang petani tampak berjongkok di antara barisan tanaman. Ia merawat setiap helai daun dengan ketelatenan yang lahir dari pengalaman panjang.
Kelompok Tani (Poktan) Mustang menjadi pengelola lahan ini. Poktan Mustang merupakan binaan Lanud Roesmin Nurjadin sejak didirikan pada 2004.
Ari, pengurus Poktan Mustang Lanud Roesmin Nurjadin mengatakan, para petani yang mengolah lahan ini merupakan binaan Lanud Roesmin Nurjadin. Lahan yang diolah para petani baru beberapa hektare saja. Pengolahan lahan belum sampai ke Jalan Kartama (di samping bagian ujung landasan pacu). Batas lahan pertanian ini adalah tempat pemakaman umum.
Pria berkulit sawo matang ini mulai bercerita mengenai sejarah berdirinya di Poktan Mustang. Sembari duduk di bangku papan yang panjang di sebuah pondok luas, Ari menceritakan kalau Poktan Mustang berdiri pada 2004 silam. Atas kegigihan para petani mengolah lahan pertanian selama 22 tahun, Poktak Mustang menyambut niat baik Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 2022.
"Waktu itu, kami menerima bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dari BRI seperti mesin air, tank sprayer (penyiram hama) sama gerobak sorong. Itu sudah empat tahun yang lalu," ungkap Ari.
Mudah-mudahan, bantuan dari BRI bisa berkesinambungan. Karena, alsintan juga butuh peremajaan.
Apalagi, lahan yang diolah petani mencapai sekitar 35 hektare saja dari total lahan 43 hektare. Lahan pertanian terdiri dari komoditas sayur dengan jagung manis.
"Lima puluh persen sayuran dan lima puluh persen jagung," ucapnya.
Sembari terus menjelaskan, Ari bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, ia berjalan menuju lahan pertanian yang telah dipasang kelambu. Ada alasannya dipasang kelambu.
Rupanya, kelambu ini bertujuan untuk meminimalisir hama. Karena, salah satu persyaratan ekspor adalah tidak menggunakan pestisida.
"Dulu, kami pernah ekspor daun selada lebar ke Singapura pada 2005," ungkapnya sembari memasuki lahan pertanian yang sudah dipasang kelambu.
Sembari menyusuri jalan setapak yang lembut akibat dibahasi hujan, Ari menceritakan juga soal penyiraman tanaman otomatis. Setiap titip lahan telah dipasang pipa yang berdiri untuk menyemburkan air layaknya gerimis di lahan pertanian. Untuk bibit yang baru ditabur, penyiraman dilakukan selama tiga hari berturut-turut pada petang hari.
"Harus sore hari, karena lebih efisien. Karena masa tanah lembab atau basah itu lebih lama kalau disiram pada sore hari. Kalau misalnya siang, kelembaban tanah cepat kering dalam beberapa jam," jelas Ari.
Untuk sayur bayam, mulai dari bibit hingga panen membutuhkan waktu 18 hingga 20 hari. Kalau tanaman jagung butuh 65 hari.
"Kami tidak menggunakan sistem penyemaian, tapi langsung tabur," tuturnya.
Hasil panen sayuran dan jagung sudah ada pengepul atau biasa dibilang tauke. Hasil panen bisa mencapai tujuh ton.
Hasil panen itu berupa kangkung, bayam, sawi, selada, dan pakcoi serta jagung manis. Hasil panen sudah bisa memenuhi kebutuah warga Pekanbaru, bahkan lebih.
Kelebihan hasil panen dijual ke luar Pekanbaru oleh tauke. Dalam mengolah lahan seluas 35 hektare ini, tentu butuh banyak petani.
Jumlah petani yang tergabung dalam Poktan Mustang ini mencapai 30 orang. Jumlah petani tak bisa ditambah lagi.
Kesempatan berbeda, Johandri (33), salah seorang petani dari Kelompok Tani Mustang Lanud Roesmin Nurjadin menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari buruh pabrik hingga menjadi petani di Pekanbaru. Pria bertubuh kurus ini berasal dari Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.
Ia pernah bekerja sebagai buruh pabrik di Tangerang, Provinsi Banten. Namun, pekerjaan buruh pabrik tak membuatnya puas. Pria tinggi semampai ini memutuskan berhenti bekerja di pabrik
"Kalau di pabrik mesti diatur-atur atasan. Kalau di sini (bertani), kita sendiri yang bekerja dengan mandiri," ungkapnya.
Lagi pun, gaji sebagai buruh pabrik juga tak memuaskan. Akhirnya, Johan, panggilannya, memilih ikut mertuanya yang bertani di Pekanbaru pada 2018.
"Saya sudah delapan tahun di sini. Hasil panen sayuran mampu menghidup dua anak saya yang masih kelas dua SD dan umur empat tahun," kata Johan.
Dalam satu bulan, ia mampu meraup omzet Rp10 juta. Sekitar Rp300 ribu disisihkan untuk membayar sewa lahan ke Lanud Roesmin Nurjadin setiap bulan
Kesempatan berbeda, Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru Widia Apriani menjelaskan, para petani yang tergabung dalam Poktan Mustang memang bukan asli Pekanbaru. Para petani ini merupakan orang-orang Jawa yang sama-sama juga bekerja sama mengolah lahan yang menjadi sumber mata pencaharian.
"Mereka terbagi menjadi tiga kelompok. Mereka merupakan klaster binaan BRI," katanya.
Jenis sayuran yang dihasilkan yaitu bayam, sawi, kangkung, pakcoi, selada, dan juga singkong. Kemudian, kelompok tani ini juga merupakan nasabah BRI.
Pada tahun 2021, klaster sayur Mustang ini mendapatkan bimbingan dari BRI berupa alsintan seperti corong, alat semprot, dan mesin air. Bantuan alsintan ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan berupa sarana prasarana yang digunakan oleh seluruh anggota dari klaster sayur Mustang tersebut.
Di bawah bentangan kelambu, kehidupan para petani berjalan dalam siklus yang nyaris tak terputus. Percikan air dari penyiraman, taburan bibit, tanaman tumbuh, lalu dipanen.
Dari proses yang tampak sederhana itu, lahir ketahanan pangan dan keberlanjutan. Lahan pertanian di kawasan Lanud Roesmin Nurjadin bukan sekadar tempat bercocok tanam.
Lahan ini menjadi ruang belajar, tempat bertahan hidup, sekaligus ladang harapan. Di tengah deru pesawat yang terbang dan mendarat, para petani tetap setia menunduk ke tanah demi menanam masa depan dari setiap benih yang mereka taburkan.