Dua Belas Santri SMP IT Tahfiz Al-Fatih Khatam Alquran, Sekolah Tekankan Pentingnya Menjaga Hafalan

16 April 2026
Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Sebanyak dua belas santri dan santriwati SMP IT Tahfiz Al-Fatih berhasil menuntaskan hafalan Alquran hingga khatam. Rata-rata para, santri mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu sekitar satu setengah tahun.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al-Fatih Anton Yuliandri usai kegiatan Khatmil Quran SMP IT Tahfizh Al-Fatih di Gedung Al-Fatih Islamic Center Jalan Rasamala, Komplek Perumahan Beringin Indah, Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai, Kamis (16/4/2026), mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari sistem pembelajaran intensif yang diterapkan di sekolah. Kemampuan menghafal Alquran relatif dapat dicapai oleh banyak peserta didik, terutama pada usia remaja.

“Anak-anak seusia 13 tahun umumnya mampu menghafal Alquran satu hingga dua halaman dalam waktu singkat. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana mempertahankan hafalan tersebut agar tetap kuat dan melekat,” ujarnya.

Perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan gawai serta media sosial seperti Google, TikTok, Facebook, dan Instagram menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menjaga konsistensi hafalan Alquran. Tujuan pendidikan di sekolah tersebut tidak hanya mencetak penghafal Alquran, tetapi juga melahirkan generasi profesional di berbagai bidang yang tetap menjaga nilai-nilai keislaman.

“Kami ingin anak-anak ini kelak menjadi ahli di bidangnya, seperti perminyakan, nuklir, maupun manajemen. Tetapi tetap sebagai hafiz Alquran,” ucap Anton.

Keberhasilan menjaga hafalan tidak hanya menjadi tanggung jawab peserta didik, melainkan juga memerlukan sinergi antara sekolah dan orang tua. Ada tiga pihak utama yang berperan, yakni peserta didik itu sendiri, pihak sekolah, dan keluarga.

“Ketika anak kembali ke lingkungan keluarga, peran orang tua menjadi sangat penting. Jika orang tua rutin membaca Alquran, terutama pada waktu-waktu seperti setelah salat Magrib, maka anak akan terdorong untuk melakukan hal yang sama,” jelasnya.

Di SMP IT Tahfiz Al-Fatih, program tahfiz Alquran menjadi bagian dari kurikulum utama dengan porsi pembelajaran mencapai enam jam per hari. Dalam satu tahun, sekolah menggelar kegiatan khatam Alquran sebanyak dua kali sebagai bentuk apresiasi atas capaian para santri.

"Berdasarkan data sekolah, sekitar 85 persen peserta telah menyelesaikan hafalan sesuai jenjang masing-masing. Untuk program pendidikan nonasrama (full day), target hafalan mencapai tiga juz. Sedangkan program asrama (boarding) menargetkan hingga sepuluh juz," sebut Anton.

Adapun capaian 30 juz menjadi prestasi istimewa yang dirayakan secara khusus. Diharapkan, kolaborasi antara sekolah, peserta didik, dan orang tua dapat terus diperkuat guna menjaga kualitas hafalan para santri. Ia juga menyambut baik rencana program Pemko Pekanbaru yang menargetkan lahirnya 10.000 penghafal Alquran.

“Mudah-mudahan, kami dapat menjadi bagian dari sekolah yang berkontribusi dalam mencetak penghafal Alquran di Pekanbaru,” tutupnya.