Kabut Asap Melanda Pekanbaru, Sekolah Tahfiz Al Fatih Terapkan Opsi Belajar Daring dan Luring

25 Agustus 2026
Pendiri Sekolah Tahfiz Al Fatih Anthon Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al Fatih Anthon Yuliandri. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru membuat sejumlah sekolah harus menyesuaikan kegiatan pembelajaran demi menjaga kesehatan dan keselamatan peserta didik. Menyikapi kondisi tersebut, Sekolah Tahfiz Al Fatih memberikan fleksibilitas kepada orang tua untuk menentukan pola belajar anak selama kualitas udara belum membaik.

Pendiri Sekolah Tahfiz Al Fatih Anthon Yuliandri, Selasa (25/8/2026), mengatakan, pihaknya menyesuaikan kebijakan dengan imbauan Pemko Pekanbaru terkait kegiatan belajar mengajar bagi siswa SD dan SMP yang mulai diberlakukan sejak 24 Agustus. Namun, Sekolah Tahfiz Al Fatih memilih memberikan dua opsi kepada orang tua, yakni pembelajaran dari rumah secara daring atau tetap mengikuti pembelajaran secara luring di sekolah.

"Kami memberikan dua opsi. Orang tua yang bisa mendampingi anak di rumah, silakan belajar dari rumah. Tetapi, bagi orang tua yang keduanya bekerja dan tidak bisa mendampingi anak, silakan anak tetap datang ke sekolah. Guru kami tetap siap, baik untuk pembelajaran daring maupun luring," ujarnya.

Kebijakan tersebut merupakan bentuk solusi. Agar, orang tua tidak kesulitan mengatur aktivitas anak selama kabut asap

Kondisi setiap keluarga berbeda. Sehingga, fleksibilitas diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Hingga kini, kebijakan tersebut berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan di antara orang tua peserta didik.

"Kalau kami terlalu kaku mengikuti aturan, sementara ada orang tua yang keduanya bekerja, bagaimana dengan anak mereka? Karena itu, kami memberikan dua solusi. Tidak ada yang ribut karena dua opsi itu memiliki solusi," ucap Anthon.

Selain itu, Sekolah Tahfiz Al Fatih juga memiliki santri yang mengikuti program boarding school. Santri boarding berasal dari luar Kota Pekanbaru dan tinggal di lingkungan sekolah dalam jangka waktu tertentu.

Santri boarding tetap berada di sekolah selama kondisi kabut asap masih dalam batas aman. Apabila kualitas udara memburuk, pihak sekolah tidak menutup kemungkinan memulangkan santri ke daerah asal masing-masing.

"Khusus yang boarding tetap di sini. Namun, kalau situasinya memburuk, mungkin kami pulangkan juga. Kami melihat kondisi setiap hari dan terus memantau informasi dari BMKG," sebut Anthon.

Keputusan belajar dari rumah tidak otomatis menjamin anak terbebas dari paparan asap karena kondisi bangunan setiap rumah berbeda.
Ia telah berkomunikasi dengan sejumlah guru mengenai kondisi rumah peserta didik. Asap tetap berpotensi masuk ke dalam rumah melalui ventilasi.

"Kalau rumah lebih rapat dan lebih kedap dibandingkan sekolah, silakan anak belajar di rumah. Tetapi, kalau rumah juga banyak ventilasi dan asap mudah masuk, tentu kondisinya berbeda," tutur Anthon.

Karena itu, Sekolah Tahfiz Al Fatih tetap menyiapkan layanan pembelajaran bagi peserta didik yang hadir di sekolah. Guru tetap berada di sekolah untuk memberikan pembelajaran secara langsung maupun daring. Meski demikian, kualitas pembelajaran secara daring tidak sepenuhnya sama dengan pembelajaran tatap muka.

"Quality service-nya tidak sama antara berhadapan langsung dengan pembelajaran daring. Apalagi kalau jaraknya jauh. Karena itu, kami tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik sesuai kondisi," ungkap Anthon.

Kondisi kabut asap diharapkan tidak membuat kegiatan pendidikan terlalu banyak dihentikan. Pembelajaran tetap harus berjalan dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan peserta didik. 

Terlalu banyak hari libur justru berdampak terhadap kualitas pendidikan anak-anak. Karena itu, kondisi kabut asap harus disikapi secara bijak. 

"Kesehatan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas. Tetapi, keberlangsungan pendidikan juga harus dijaga agar peserta didik tidak kehilangan terlalu banyak waktu belajar," pungkas Anthon.