Nenek Penderita Stroke Telantar di Pekanbaru, Keluarga Enggan Merawat meski Tinggal Bersebelahan

15 Oktober 2026
Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy. Foto: Surya/Riau1.

Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pekanbaru menemukan kasus memprihatinkan ketika seorang nenek yang menderita stroke ditelantarkan oleh keluarganya. Ironisnya, keluarga nenek tersebut diketahui tinggal bersebelahan, tetapi merela tidak bersedia merawatnya dengan alasan keterbatasan ekonomi.

Kepala Dinsos Pekanbaru Junaedy, Kamis (15/10/2026), mengatakan, penanganan terhadap nenek tersebut melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) setelah adanya laporan warga melalui layanan darurat 112 beberapa pekan lalu. Warga yang menemukan orang sakit atau telantar dapat melaporkan kondisi tersebut agar segera ditindaklanjuti oleh instansi terkait.

"Kalau ada warga melapor melalui layanan 112, Diniww bersama kami turun ke lokasi. Kalau orang tersebut sakit, kami bawa untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit. Selanjutnya, penanganan medis dilakukan oleh pihak rumah sakit dan Dinkes," ujar Junaedy.

Setelah penanganan awal dilakukan, Dinsos akan menelusuri identitas dan keberadaan keluarga pasien apabila data kependudukan, seperti kartu keluarga (KK), tersedia. Dalam kasus nenek penderita stroke tersebut, petugas mendapati bahwa pihak keluarga ternyata tinggal tidak jauh dari tempatnya.

"Namun, keluarga itu menolak untuk merawat sang nenek," ujarnya.

Junaedy mengaku kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan warga telantar. Selain persoalan kesehatan, petugas juga harus menghadapi situasi ketika keluarga tidak bersedia memberikan perawatan kepada anggota keluarganya sendiri.

"Di sinilah susahnya kami. Ada warga yang tidak peduli sama keluarganya. Itu susah juga kami menjelaskannya," ucapnya.

Keluarga si nenek tersebut berdalih tidak sanggup menanggung biaya perawatan karena kondisi ekonominya juga terbatas. Padahal, Pemko Pekanbaru memiliki program Universal Health Coverage (UHC) yang dapat membantu warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

"Alasannya mereka juga tidak sanggup secara ekonomi. Mereka miskin juga. Padahal, 0emko punya program UHC untuk warga miskin. Kenapa mesti takut?" ucap Junaedy.

Diharapkan, warga tidak mengabaikan anggota keluarga yang sakit atau membutuhkan pertolongan. Persoalan ekonomi seharusnya tidak serta-merta membuat keluarga melepaskan tanggung jawab terhadap anggota keluarganya yang membutuhkan perawatan.