Pantang Ketinggalan Zaman, Usaha Roti Canai Pekanbaru Pasang QRIS BRI Demi Pelanggan
Seorang karyawan Roti Canai Pekanbaru sedang menipiskan adonan hingga tipis agar bisa diisi dengan berbagai potongan daging, sarden, hingga telur. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Cahaya matahari mulai terasa menyengat pada pagi menjelang siang itu. Seorang pria mengenakan kaos dan tanjak merah, penutup kepala tradisional Melayu, tampak tekun membentangkan adonan di atas meja berlapis papan putih hingga membentuk lembaran yang lebar dan tipis.
Sarung tangan hitam membalut kedua tangannya saat ia melebarkan adonan itu dengan cekatan. Di bawah tenda berwarna biru, pria tersebut bersiap mengolah adonan menjadi roti canai.
Spanduk bertuliskan "Roti Canai dan Mie Goreng Mamak' tergantung di bagian depan tenda. Di sisi kanan pria itu, sebuah wajar datar berukuran besar tampak siap digunakan untuk memanggang adonan hingga matang dan berwarna keemasan.
Satu papa telur ayam ras tersusun di sisi kiri meja, siap digunakan satu per satu. Setelah adonan membentang tipis bak lembaran kain, pria itu menuangkan sebutir telur yang telah dikocok dengan di wadah yang lain. Jemarinya bergerak cepat melipat setiap sudut adonan sebelum roti canai tersebut dipanggang di atas wajan datar yang telah panas.
Hanya dalam beberapa detik, lembaran adonan tipis itu telah berubah menjadi bentuk persegi empat yang rapi. Tak lama kemudian, kompor mulai dinyalakan. Wajan mulai dipanaskan untuk mengolah roti canai tersebut.
Permukaan wajan datar berukuran besar itu disemprot minyak goreng dari botol berwarna kuning. Saat adonan mulai dipanggang, aroma roti canai yang harum perlahan menyebar di sekitar tenda. Seketika itu, rasa lapar muncul dan mengundang perhatian para pengunjung acara Seruni Kabinet Merah Putih di Jalan Singgalang, Kelurahan Tangkerang Timur, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Roti canai ini memang telah lama dikenal warga Pekanbaru karena cita rasanya yang khas.
Di dalam tenda yang sama, seorang pria lainnya terlihat merapikan lembaran menu makanan yang telah dilaminasi. Plastik laminasi itu dilubangi menggunakan pisau agar bisa diikat dengan karet gelang. Setelah selesai, menu tersebut digantung pada rangka atap tenda. Menu ini menjadi penunjuk bagi pelanggan yang ingin memilih hidangan.
Pada lembaran menu yang digantung di tenda itu juga tertera kode QRIS untuk pembayaran non-tunai. Namun, terdapat kesalahan penulisan nama bank yang dimaksud. Pada menu itu tertulis Bank Republik Indonesia. Padahal, penulisan yang benar adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Di bawah kode QRIS, terpampang tulisan "Roti Canai Ikhwan Pekanbaru". Sebuah keterangan lain menarik perhatian. Seluruh keuntungan dari penjualan roti canai itu disebutkan akan disalurkan kepada Yayasan Al Anshar Pekanbaru. Yayasan ini berada tak jauh dari tenda tersebut.
Sosok yang sibuk merapikan dan menggantung menu di tenda itu bukanlah karyawan biasa. Ia adalah Fitril Akbar, pengelola Roti Canai Pekanbaru.
"Usaha roti canai ini sudah berdiri sejak 2016. Dulu, namanya Roti Canai Ikhwan. Kini, namanya telah berubah menjadi Roti Canai Pekanbaru," katanya.
Nama usaha roti canai diubah sejak mereka mulai mengikuti berbagai bazar yang diselenggarakan pemerintah daerah. Usaha roti canai ini sudah ada di Papua, Makassar, Sentul Bogor, Bandung, Medan, Aceh, dan Pekanbaru.
Seluruh karyawan Roti Canai Pekanbaru yang merupakan anggota Yayasan Al Anshar tercatat sebagai nasabah BRI. Sementara itu, Akbar sendiri telah menjadi nasabah BRI sejak 2021
Ia mengisahkan awal penggunaan QRIS BRI. Sejumlah karyawan BRI datang ke lapak dagangan roti canai ini saat Bazar Ramadan di samping Kantor Gubernur Riau pada 2023.
"Kemudian, mereka membantu membuatkan QRIS BRI usaha kami," ucap Akbar.
Pada saat itu, pembayaran menggunakan QRIS belum terlalu dikenal di kawasan pinggiran seperti lokasi usaha Roti Canai Pekanbaru. Sebaliknya, penggunaan QRIS lebih banyak dijumpai di pusat Kota Pekanbaru.
Penggunaan QRIS cukup diminati kalangan remaja yang sering berkumpul bersama teman-temannya. Mereka cenderung memilih pembayaran digital. Karena, mereka tidak perlu lagi membawa uang tunai.
"Kami berjualan di samping Menara Dang Merdu, Jalan Ahmad Yani, setiap malam. Kawasan itu telah menjadi salah satu pusat kuliner yang ramai dikunjungi masyarakat pada malam hari," jelas Akbar.
Tak hanya berjualan pada malam hari, Roti Canai Pekanbaru juga membuka lapak dengan karyawan yang berbeda di luar area Car Free Day setiap Minggu pagi. Kini, transaksi dengan QRIS semakin banyak digunakan oleh pelanggan.
"Namun, ada juga pelanggan yang datang berolahraga tanpa membawa telepon seluler (ponsel). Biasanya, mereka membayar menggunakan uang tunai," pungkas Akbar.
Kesempatan berbeda, Junior Manager Retail Transaction Department Region 2 Pekanbaru Pitra Suci saat dihubungi mengatakan, jumlah QRIS yang tersebar sebanyak 171.926. Jumlah ini berdasarkan data terakhir pada 30 April 2026.
"Untuk penyebaran QRIS yang paling banyak di area Pekanbaru, Batam dan Dumai," ungkapnya.
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti Roti Canai Pekanbaru tidak ingin tertinggal dalam mengikuti perkembangan teknologi. Yayasan Al Anshar sebagai penggerak usaha tersebut mewajibkan penggunaan QRIS sebagai sarana pembayaran. Dengan sistem itu, hasil penjualan dapat langsung masuk ke rekening yayasan. Sehingga, pengelolaan keuangan menjadi lebih mudah dan transparan.
Penggunaan QRIS juga mempermudah transaksi dengan pelanggan dari Generasi Z dan Generasi Alpha. Umumnya, kelompok usia ini telah akrab dengan teknologi digital dan ponsel sejak usia dini. Sehingga, mereka lebih terbiasa melakukan pembayaran secara non-tunai dibandingkan uang tunai.