Tradisi Qing Ming di Pekanbaru, Momentum Ziarah dan Silaturahmi Keluarga Tionghoa

5 April 2026
Keluarga Tionghoa saat melaksanakan ritual ziarah kubur (Qing Ming/Ceng Beng) di Kompleks Pemakaman Tionghoa, Jalan Umban Sari, Kecamatan Rumbai, Minggu (5/4/2026). Foto: Surya/Riau1.

Keluarga Tionghoa saat melaksanakan ritual ziarah kubur (Qing Ming/Ceng Beng) di Kompleks Pemakaman Tionghoa, Jalan Umban Sari, Kecamatan Rumbai, Minggu (5/4/2026). Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Tradisi Qingming (Ceng Beng) kembali dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa Pekanbaru sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ritual ziarah kubur, tetapi juga momentum mempererat hubungan antarkeluarga.

Ketua Pengurus Yayasan Sosial Panca Bhakti Abadi (YSPBA) Toni Sasana Surya usai acara Peringatan Ceng Beng/Qing Ming (Ziarah Kubur) di Lahan Pemakaman Tionghoa YSPBA, Jalan Umban Sari, Rumbai, Minggu (5/4/2026), menjelaskan bahwa Qing Ming merupakan tradisi tahunan yang dijalankan dengan menziarahi makam leluhur. Pada tahun ini, rangkaian kegiatan berlangsung sejak 26 Maret hingga 15 April, dengan puncak peringatan jatuh pada 5 April.

“Dalam tradisi ini, keluarga datang ke makam orang tua, kakek, dan nenek mereka untuk membersihkan area makam serta memanjatkan doa. Ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mendahului,” katanya.

Qing Ming tidak hanya bermakna spiritual. Tetapi, Qing Ming juga menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga besar. Momen tersebut dimanfaatkan untuk berkumpul, mengenang jasa para leluhur, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.

Toni memaparkan, kawasan pemakaman yang dikelola memiliki luas sekitar 20 hektare. Dari total tersebut, sekitar 15 hektare telah terisi. Sementara, sisanya masih tersedia untuk pemakaman umum.

“Di area ini terdapat kurang lebih 4.500 makam. Sebagian di antaranya merupakan pemindahan makam dari kawasan tepian Sungai Siak ke lokasi ini sejak tahun 1970,” jelasnya.

Selain fasilitas pemakaman, kawasan tersebut juga dilengkapi dengan krematorium serta balai kenangan leluhur. Balai tersebut diperuntukkan bagi keluarga yang memilih kremasi, sebagai tempat penyimpanan abu jenazah sekaligus ruang untuk mengenang orang yang telah wafat.