Kepala BPBD Damkar Riau, Edy Afrizal
RIAU1.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyebutkan wilayah Provinsi Riau saat ini mulai memasuki periode kemarau pertama berdasarkan pola iklim normal tahunan.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.
Forecaster BMKG Pekanbaru, Bibin S, Sabtu (7/2/2026), menjelaskan bahwa Riau memiliki tipe hujan equatorial yang ditandai dua musim kemarau dan dua musim hujan dalam satu tahun.
“Wilayah Riau mempunyai tipe hujan equatorial dengan cirinya memiliki dua musim kemarau dan dua musim hujan. Normalnya kemarau pertama terjadi pada Februari hingga pertengahan Maret, sedangkan kemarau kedua terjadi pada Juni hingga September,” ujar Bibin, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, di antara dua periode kemarau tersebut terdapat dua musim hujan, yakni pada pertengahan Maret hingga Mei serta Oktober hingga Januari.
"Berdasarkan pola tersebut, awal Februari ini termasuk dalam periode kemarau pertama, meskipun hujan ringan masih dapat terjadi secara lokal," imbuhnya.
Seiring mulai berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah, kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu ditingkatkan, terutama di daerah rawan kebakaran.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD) Riau juga mulai memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota sebagai langkah antisipasi menghadapi periode kemarau tahun ini.
Kepala BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal, mengatakan pihaknya akan menggelar rapat koordinasi dengan daerah untuk membahas kesiapan penanganan karhutla, termasuk kemungkinan penetapan status siaga darurat di wilayah yang membutuhkan.
"Kami akan segera mengumpulkan BPBD kabupaten/kota untuk koordinasi penanganan karhutla," jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. "Jangan membuka lahan dengan cara membakar," tegasnya.