Bisnis Keripik Cabai, Guru Honorer Ini Bisa Raup Omset Rp 17 Juta Sebulan

14 September 2018
Keripik cabai

Keripik cabai

RIAU1.COM - Bagi penggemar makanan pedas, pasti sudah tidak asing lagi dengan keripik cabai. Di Riau, keripik cabai menjadi salah satu makanan khas Dumai yang sedang naik daun.

Rasanya yang pedas manis membuat siapapun yang memakannya dibuat ketagihan. Bermula dari rasa miris terhadap masyarakat Pekanbaru yang cendrung lebih menyukai makanan dari luar provinsi dibanding produk lokal Riau. Inilah yang membuat bang Saf, salah satu guru honorer di Kota Pekanbaru, memilih menjadi pedagang keripik khas Dumai yang meraup untung hingga jutaan Rupiah.

"Awalnya lagi booming kerupuk dari Bandung yang pedas dan ada level itu. Saya lihat banyak yang beli. Padahal harganya mahal. Lalu saya iseng jualan keripik cabai khas Dumai ini," ujar bang Saf, panggilan akrabnya.

Bang Saf mulai jualan kerupuk cabai khas Dumai sejak 3 tahun silam. Dalam sehari, ia bisa meraup omset Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu, bahkan, ia pernah mencapai angka Rp 17 Juta per bulan.

"Kalau sekarang omset sehari Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Bahkan selama 3 tahun jualan, saya pernah mencapai angka Rp 17 juta perbulan. Waktu itu bulan puasa jadi yang beli banyak," ujarnya, Jumat (14/8/2018).

Dalam sehari Saf mampu menjual 40 hingga 50 bungkus. Ia akan mulai berjualan dari pukul 3 siang hingga pukul 9 malam di jalan Diponegoro Pekanbaru. Hal ini dikarenakan ketika pagi bang Saf harus menjalankan tugasnya sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar negeri di Pekanbaru.

Meski hasil penjualan keripik cabai asal Dumai ini lebih besar dari gajinya sebagai guru honorer, namun karena kecintaannya terhadap dunia pendidikan, ia pun tetap menjalankan profesinya sebagai seorang guru.

"Ya gaji guru honor tahu sendirilah berapanya, alhamdulillah untung disini lebih besar dari gaji honor guru. Tapi karena saya suka ngajar terus suka sama anak-anak, makanya saya bertahan menjadi guru honor dengan gaji segitu," tutup bang Saf