Ilustrasi Anak Main Medsos
RIAU1.COM - Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan keterbukaannya terhadap rencana pelarangan media sosial bagi anak di bawah umur. Langkah ini dipertimbangkan menyusul kebijakan tegas yang telah diambil Australia dan beberapa negara lain untuk menjauhkan remaja dari dampak negatif platform digital.
Merz mengakui dirinya biasanya skeptis terhadap segala bentuk larangan. Namun, pandangannya berubah ketika melihat realitas yang dihadapi anak-anak saat ini.
"Saya pikir fokus utamanya adalah bagaimana melindungi anak-anak di usia ketika mereka juga butuh waktu untuk bermain, belajar, dan berkonsentrasi di sekolah," ujar Merz saat berbicara di podcast Machtwechsel Kumparan mengutip AFP, Rabu (18/2) waktu setempat.
Kekhawatiran Merz sendiri bukan tanpa dasar. Ia menyoroti data yang menunjukkan anak usia 14 tahun kini menghabiskan rata-rata 5,5 jam sehari secara online.
"Jika sosialisasi mereka sepenuhnya hanya terjadi melalui medium ini, kita tidak perlu heran jika muncul defisit kepribadian dan masalah dalam perilaku sosial anak muda," tegasnya.
Merz juga mengaku sempat meremehkan bahaya algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan penyebaran berita palsu (fake news). Ia tidak ingin masyarakat Jerman dirusak dari dalam maupun luar oleh manipulasi online, yang secara khusus membahayakan anak.
"Dua tahun lalu, saya mungkin akan mengatakan hal yang berbeda mengenai topik ini, tetapi saya benar-benar meremehkan, seperti yang mungkin kita semua lakukan, signifikansi algoritma, kecerdasan buatan, serta pengaruh yang ditargetkan dan dikendalikan. Baik dari dalam, maupun terutama dari luar," ujarnya mengutip Reuters.
Dalam perdebatan ini pun muncul argumen anak-anak seharusnya tidak dilarang, melainkan diperkenalkan pada media sosial agar mereka tahu cara menggunakannya dengan benar. Merz menolak mentah-mentah pandangan tersebut dengan analogi yang tajam.
"Berargumen bahwa anak-anak perlu diperkenalkan dengan hal itu (medsos) agar mereka paham, itu tidak masuk akal. Kalau begitu, Anda juga harus menyajikan alkohol di sekolah dasar supaya mereka terbiasa," sindir Merz.
Partai CDU yang dipimpin Merz cenderung mendukung batas usia 16 tahun untuk akses media sosial seperti TikTok atau Instagram. Sementara itu, mitra koalisinya dari SPD menyarankan larangan untuk anak di bawah 14 tahun.
Meski dukungan menguat, penerapan aturan ini masih menghadapi tantangan birokrasi. Di Jerman, regulasi media merupakan wewenang negara bagian, sehingga pemerintah pusat perlu bernegosiasi untuk menyamakan aturan secara nasional.
Langkah Jerman ini menambah daftar negara yang mulai "gerah" dengan dampak medsos. Sebelumnya, Australia menjadi pelopor yang mewajibkan penghapusan akun medsos bagi warga di bawah 16 tahun sejak Desember tahun lalu.*