Jika Trump Serang Kolombia, Pietro Siap Perang Gerilya

6 Januari 2026
Presiden Kolombia, Gustavo Petro

Presiden Kolombia, Gustavo Petro

RIAU1.COM - Ketegangan di Amerika Latin mencapai titik didih. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk "mengangkat senjata" demi menghadapi ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Pernyataan keras ini muncul tak lama setelah pasukan AS menangkap pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dalam sebuah operasi militer akhir pekan lalu.

Petro, yang merupakan mantan gerilyawan kelompok M-19, telah menjadi sasaran serangan verbal dan ancaman dari Trump selama berbulan-bulan. Melalui akun resmi di platform X (dahulu Twitter), Petro menegaskan komitmennya terhadap kedaulatan negaranya.

"Saya bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi, tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi," tegas Petro, Senin (5/1/2026) yang dimuat Beritasatu.com

Hubungan kedua pemimpin ini memburuk sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2026. Trump sebelumnya memperingatkan Petro agar 'hati-hati' dan melontarkan tuduhan tanpa bukti dengan menyebut pemimpin sayap kiri pertama Kolombia itu sebagai "orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat".

Perselisihan ini bukan sekadar perang kata-kata. Washington telah menghapus Kolombia dari daftar negara sekutu dalam perang melawan narkoba, serta menjatuhkan sanksi keuangan kepada Petro dan keluarganya.

Petro secara vokal mengkritik pengerahan militer AS di Karibia. Operasi yang awalnya berfokus pada pencegatan kapal narkoba kini meluas hingga penyitaan tanker minyak Venezuela dan puncaknya adalah penggerebekan di Caracas untuk menangkap Nicolas Maduro pada Sabtu lalu.

Dalam pesan panjang di X, Petro membela kebijakan anti-narkotika pemerintahannya namun memperingatkan risiko agresivitas militer yang serampangan.

"Jika Anda membom salah satu kelompok ini tanpa intelijen yang memadai, Anda akan membunuh banyak anak-anak. Jika Anda membom petani, ribuan orang akan berubah menjadi gerilyawan di pegunungan. Dan jika Anda menahan presiden, yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat saya, Anda akan melepaskan 'jaguar rakyat'," tulisnya.

Ancaman "jaguar rakyat" ini dipandang sebagai peringatan akan bangkitnya sentimen perlawanan rakyat di kawasan tersebut. Di sisi lain, pemerintahan Trump diketahui sangat dekat dengan oposisi sayap kanan di Kolombia. Pihak oposisi sendiri menaruh harapan besar untuk memenangkan pemilihan legislatif dan presiden yang dijadwalkan berlangsung tahun ini.

Situasi ini menempatkan Kolombia dalam posisi yang sangat rentan secara diplomatik dan keamanan di tengah pergeseran kekuatan politik di Benua Amerika.*