Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Kondisi A (9) bocah perempuan yang menjadi korban penganiayaan oleh ibu tiri dan ayah kandungnya di Kecamatan Sagulung, batam berangsur membaik setelah menjalani perawatan medis. Selain mendapatkan penanganan kesehatan, korban juga memperoleh pendampingan psikologis dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Batam.
Kapolsek Sagulung, Iptu Husnul Afkar, mengatakan kondisi korban menunjukkan perkembangan positif setelah mendapat perawatan di RSUD Embung Fatimah Batam.
“Alhamdulillah kondisi korban saat ini terus membaik setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Selain itu, korban juga mendapatkan pendampingan dari UPTD PPA Kota Batam,” ujarnya yang dimuat Batampos.
Menurut Husnul, penanganan kasus tersebut menjadi perhatian serius pihak kepolisian. Setelah menerima laporan dan melakukan penyelidikan, polisi bergerak cepat mengamankan para pelaku serta melengkapi berkas perkara untuk proses hukum lebih lanjut.
“Kasus ini menjadi atensi kami. Kedua pelaku sudah kami tetapkan sebagai tersangka dan berkas perkaranya sedang kami proses untuk dilimpahkan ke kejaksaan,” katanya.
Dalam perkara tersebut, polisi menetapkan ibu tiri dan ayah kandung korban sebagai tersangka atas dugaan tindak kekerasan terhadap anak.
Husnul menegaskan pihaknya berkomitmen menangani setiap kasus yang melibatkan anak secara serius agar memberikan efek jera kepada pelaku.
“Kami menangani kasus kekerasan terhadap anak ini dengan serius. Anak-anak harus mendapatkan perlindungan dan rasa aman,” tegasnya.
Sementara itu, ibu kandung korban, Nur Ayu, berharap kedua pelaku mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan yang dilakukan terhadap putrinya.
“Saya meminta keadilan untuk anak saya. Saya berharap kedua pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya.
Nur Ayu mengaku sudah berpisah dengan putrinya selama sekitar empat tahun karena bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Setelah mengetahui kondisi anaknya, ia berencana segera kembali ke Batam untuk bertemu sekaligus mengasuh putrinya.
“Sudah empat tahun saya bekerja di Malaysia. Setelah mengetahui kejadian ini, saya ingin pulang dan bertemu anak saya serta mengurusnya secara langsung,” katanya.*