Produksi Gabah Natuna Meningkat Meski 98 Persen Wilayahnya Laut

27 Juli 2026
Ilustrasi/Net

Ilustrasi/Net

RIAU1.COM - Hamparan laut mendominasi bentang alam Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Sekitar 98 persen wilayahnya merupakan perairan, sehingga ruang untuk mengembangkan sektor pertanian jauh lebih terbatas dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna seperti dimuat Batampos tidak menjadikan kondisi geografis tersebut sebagai hambatan untuk mendukung program swasembada pangan nasional, khususnya komoditas beras.

Berbagai strategi dilakukan bersama para petani, mulai dari meningkatkan frekuensi tanam, memperkuat infrastruktur irigasi, hingga menyiapkan penerapan teknologi pertanian modern agar produktivitas lahan terus meningkat. Karena luas lahan pertanian terbatas, Pemkab Natuna memilih mengoptimalkan lahan sawah yang sudah ada melalui peningkatan indeks pertanaman (IP).

Melalui strategi ini, petani didorong menanam padi hingga dua bahkan tiga kali dalam setahun pada lahan yang sama. Dengan masa tanam padi yang relatif singkat, sekitar tiga bulan hingga panen, frekuensi produksi dapat ditingkatkan tanpa membuka lahan baru.

Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk meningkatkan produksi gabah sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. Agar produktivitas petani terus meningkat, pemerintah daerah juga memberikan berbagai bantuan berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) maupun sarana produksi pertanian (saprodi).

Dukungan tersebut meliputi:
Sistem Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT).
Sistem Irigasi Perpompaan (Irpom).
Benih padi.
Pupuk gratis.
Pupuk bersubsidi.
Keberadaan JIAT dan Irpom menjadi solusi penting untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.

Pada semester I 2026, sebanyak 733 petani yang tergabung dalam kelompok tani aktif menerima alokasi pupuk bersubsidi.

Total pupuk yang disalurkan mencapai 188,53 ton, terdiri atas; Pupuk NPK.
Urea, Pupuk organik. Selain itu, pembangunan lima unit Irpom juga sedang berlangsung, termasuk tiga unit yang dibangun di Pulau Serasan, salah satu pulau terluar Indonesia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna, Wan Syazali, mengatakan luas sawah produktif di Natuna saat ini mencapai 45,45 hektare, sementara luas lahan baku sawah mencapai 414,01 hektare.

Pada 2025, produktivitas padi di Natuna berkisar antara 2,5 hingga 3,5 ton per hektare untuk setiap musim tanam.

Melalui penerapan pola tanam berulang, produksi gabah kering panen (GKP) di Natuna menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada 2024, produksi GKP tercatat sebesar 113,68 ton. Angka tersebut hampir dua kali lipat pada 2025 menjadi 219,69 ton, seiring meningkatnya frekuensi tanam di sejumlah lahan pertanian. Sementara itu, hingga Juli 2026, produksi GKP telah mencapai 106,80 ton dan diperkirakan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun seiring masih berlangsungnya musim tanam dan panen di beberapa wilayah.

Berbeda dengan banyak daerah lain yang mengandalkan distributor swasta, Pemerintah Kabupaten Natuna memilih menangani sendiri distribusi pupuk bersubsidi. Langkah tersebut diambil karena minimnya pihak ketiga yang bersedia menjadi distributor akibat tingginya biaya distribusi di wilayah kepulauan.

Melalui DKPP, pemerintah menyediakan gudang penyimpanan sekaligus petugas yang mengelola penyaluran pupuk. Petani mengambil pupuk langsung dari gudang yang telah ditentukan sehingga ketersediaan pupuk tetap terjamin meski berada di wilayah dengan tantangan logistik tinggi.

Pada semester II 2026, Pemkab Natuna juga mulai mempersiapkan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian.

Program ini bertujuan meningkatkan populasi tanaman dalam setiap hektare lahan sehingga hasil panen dapat meningkat secara signifikan. Dalam sistem tersebut, penggunaan benih ditingkatkan dari sekitar 25 kilogram menjadi 70 kilogram per hektare setiap musim tanam.

Dengan peningkatan tersebut, populasi tanaman diproyeksikan naik dari sekitar 350 ribu rumpun menjadi 900 ribu hingga 1,2 juta rumpun per hektare.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kepulauan Riau, Rudi Hartono, menjelaskan teknologi PM-AAS berpotensi meningkatkan produktivitas secara drastis.

Menurutnya, lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 10 ton GKP per hektare berpotensi meningkat hingga 20 ton dalam satu kali musim tanam apabila teknologi diterapkan secara optimal.

Program tersebut telah disosialisasikan kepada penyuluh pertanian Kementerian Pertanian dan DKPP Natuna pada Juli 2026 sebagai tahap awal sebelum diterapkan kepada petani. Di tengah dominasi wilayah laut dan keterbatasan lahan pertanian, Natuna terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui peningkatan indeks tanam, pembangunan infrastruktur irigasi, dukungan sarana produksi, hingga penerapan pertanian modern, pemerintah daerah berupaya memastikan setiap hektare sawah mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi.

Upaya tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis tidak menghalangi Natuna untuk terus berkontribusi dalam mewujudkan swasembada pangan dari wilayah perbatasan Indonesia.*