Daging Babi
Riau1.com - Mengonsumsi daging babi memiliki risiko terkena infeksi cacing pita. Selain itu, mengonsumsi daging ini secara berlebih juga dikaitkan dengan risiko terkena kolesterol tinggi, penyakit jantung, dan kanker.
Meski umum dikonsumsi dan dianggap sebagai salah satu sumber protein yang baik, terdapat risiko yang dikaitkan dengan daging babi, yaitu infeksi cacing pita atau taeniasis.
lni adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing Taenia solium alias cacing pita babi. Cacing pita babi jenis ini bisa ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara-negara dengan sistem sanitasi yang buruk.
Di negara-negara tersebut, babi diperbolehkan berkeliaran bebas hingga berisiko mengonsumsi kotoran manusia yang mengandung telur cacing pita. Cacing pita bisa juga masuk melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh telur cacing tersebut.
Telur cacing pita yang masuk ke perut manusia akan menetas menjadi larva. Selanjutnya, larva akan melanjutkan perjalanan menuju usus dan masuk ke peredaran darah. Selain di saluran pencernaan, cacing pita juga bisa menyebar ke bagian Iain di dalam tubuh manusia, seperti otot, mata, dan otak.
Infeksi cacing pita biasanya tidak spesifik atau justru tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala-gejala infeksi cacing pita yang bisa muncul antara lain sakit perut, diare, sembelit, dan mual muntah. Jika menyebar ke otot, infeksi cacing pita dapat menyebabkan benjolan kecil di bawah kulit.
Infeksi cacing pita babi di dalam otak dikenal dengan sebutan neurosistiserkosis. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, gangguan penglihatan, kejang, dan penurunan kesadaran. Gejala Iain yang menandakan cacing pita sudah menginfeksi otak adalah kebingungan, sulit konsentrasi, gangguan koordinasi tubuh, dan tanda-tanda pembengkakan otak. Demikian dilansir Instagram @dokter_medis, 2 Agustus 2018.