Ilustrasi kapal Pertamina/Net
RIAU1.COM - Indonesia masih menghadapi defisit minyak mentah hampir 1 juta barel per hari. Kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara lifting minyak dalam negeri hanya berada di kisaran 600-610 ribu barel per hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kesenjangan pasokan tersebut menjadi tantangan di tengah ketidakpastian harga dan pasokan minyak dunia.
“Kebutuhan BBM kita kurang lebih 1,6 juta barel per hari, sementara lifting kita sekitar 600-610 ribu barel per hari,” ujar Bahlil di Jakarta, dikutip Selasa, 15 September 2026 yang dimuat Rmol.id.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mencari sumber pasokan minyak mentah untuk menutup kebutuhan dalam negeri. Bahlil mengungkapkan, dirinya turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Rusia untuk menegosiasikan pasokan crude oil jangka panjang.
Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk menutupi defisit pasokan minyak di dalam negeri. Pemerintah juga menegaskan kebijakan pasokan energi tetap diarahkan untuk kepentingan nasional.
“Indonesia adalah negara merdeka, tidak ada satu pun kekuatan asing yang bisa mengintervensi kebijakan pasokan energi kita demi kepentingan nasional,” tegasnya.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memastikan gejolak harga minyak dunia tidak akan dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan harga BBM bersubsidi.
“Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” kata Bahlil.
Ia menegaskan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat, meski harga minyak dunia berfluktuasi melebihi asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ketimpangan antara kebutuhan dan lifting menunjukkan tantangan utama ketahanan energi Indonesia masih berada pada kemampuan memenuhi kebutuhan minyak dari pasokan dalam negeri. Pemerintah pun menempuh diplomasi pasokan minyak mentah sekaligus menjaga harga BBM bersubsidi tetap terjangkau.
