Rabu, 01 Desember 2021

OPINI

Pengaruh Kepemimpinan Politik Dalam Penanganan Covid-19 antara Indonesia dan India

news24xx


Ilustrasi corona/net Ilustrasi corona/net

RIAU1.COM - Oleh: Irma Syaevi Maghfiroh
*Mahasiswa Pascasarjana, Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia

Dunia sedang dihadapkan dengan kasus Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara tanpa terkecuali. Di era globalisasi pada saat ini dengan pesatnya perkembangan teknologi, pandemi memberikan tantangan yang begitu besar bagi setiap negara. Banyak persoalan-persoalan baru yang timbul akibat pandemi Covid-19 hingga pengaruhnya terhadap ekonomi politik global dan domestik. Covid-19 memiliki karakteristik yang begitu khas yakni proses penularan langsung terhadap sesama manusia yang begitu cepat. Hal ini menyebabkan setiap individu harus saling berjaga jarak.

Pemerintah di seluruh dunia dilanda kebingungan pada saat virus ini pertama kali muncul. Pemerintah dituntut untuk cepat mengambil langkah-langkah strategis dalam menangani dan menekan angka penularan Covid-19. Setiap negara memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi kasus ini. Pemerintah Indonesia sendiri pada awalnya menunjukkan ketidaksiapan dan terjebak dalam penanganan terhadap tingkat urgensi maupun dampak Covid-19, sebelum pada akhirnya membuat langkah-langkah yang tepat untuk menangani pandemi, sehingga menjadi lebih terstruktur. Langkah tersebut merupakan kebijakan yang dianggap mampu menurunkan angka penyebaran Covid-19.

Luhut Binsar Pandjaitan selaku Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan bahwa strategi kebijakan dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia menerapkan percepatan proses vaksinasi, penerapan protokol kesehatan, PSBB, PPKM, 3M (Menjaga Jarak, mencuci tangan, dan memakai masker), 3T (Testing, tracing, treatment), dan isolasi terpusat, dengan adanya aplikasi berbasis teknologi digital yaitu Peduli Lindungi yang terintegrasi untuk mengidentifikasi (screening), tracing, dan penegakkan protokol kesehatan. Pada saat ini Indonesia berada di peringkat ke-6 dunia berdasarkan jumlah penduduk yang telah di vaksin dan jumlah total suntikan. Laju vaksinasi harian ditargetkan lebih dari 2 juta per hari dan cakupan wilayah aglomerasi dan kota-kota besar ditargetkan dapat mencapai 70% pada September 2021.

Sementara itu, India merupakan negara dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 milyar mencatatkan bahwa tingkat angka kasus Covid-19 terus meningkat sampai dengan saat ini. Pada bulan Juli (07/2020), satu bulan setelah lockdown dilonggarkan, India menjadi negara ketiga dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. Kasus ini sangat melaju pesat dengan angka lebih dari 20.000 setiap harinya. 

Berbagai pendekatan dalam menangani kasus Covid-19 tidak terlepas dari pengaruh sistem politik, kultur, dan gaya kepemimpinan setiap negara. Dalam menekan angka penyebaran Covid-19, Perdana Menteri Modi memilih menerapkan kebijakan lockdown total, atau PSBB yang dilakukan di Indonesia. Namun dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di India, masih saja banyak masyarakat yang menolak screening dan karantina, hal inilah yang menyebabkan pemerintah India mengalami kendala dalam mengendalikan penularan Covid-19. Sejauh ini, sebagian besar kasus Covid-19 di India telah mencapai lebih dari 400 kasus yang dilaporkan berasal dari wisatawan asing atau warga India yang kembali dari luar negeri. Namun di sisi lain, India adalah salah satu negara yang langsung menutup perbatasannya dengan membatalkan visa dan menolak masuk orang asing.

Total kasus Covid-19 di Indonesia relatif rendah dibandingkan India bila dilihat dari jumlah proporsional terhadap populasi penduduk. Berikut total perbandingan kasus di Indonesia dan India:

Negara    Total Kasus per 1 Juta Penduduk    Total Kematian per 1 Juta Penduduk    Total Vaksinasi (jutadosis)    Angka VaksinasiHarian (jutadosis)
Indonesia    15,156    508    118,1    1,31
India    24,005    319    761,4    7,26

(Sumber: Perkembangan Covid-19 dan DampakEkonomi)

Tabel diatas menjelaskan bahwa penyebaran angka kasus tertinggi Covid-19 adalah India, dengan angka 24,005 per 1 Juta penduduk. Namun dibalik penyebaran kasus yang begitu tinggi, India berupaya untuk mengoptimalkan angka vaksinasi dengan angka mencapai 7,26 vaksinasi harian. 

Pandemi ini menimbulkan isu terkait sistem politik mana yang mampu dan berhasil menangani krisis peradaban hidup manusia. Indonesia maupun India adalah dua negara yang tidak jauh berbeda. Menurut Global Democracy, Pada tahun 2015 Indonesia menempati peringkat 68, sedangkan India lebih baik 3 tingkat berada di posisi 65. (Global Democracy Rangking, 2015). Indonesia dan India di kategorikan sebagai depelopmental state atau Negara demokrasi dan historis yang mengalami sebuah transisi. Indonesia dan India memiliki persamaan secara demografis dan historis yang membuat civil society dan proses demokrasi diantara keduanya memiliki persamaan.

Tulisan ini dibuat untuk membandingkan sejauh mana pengaruh kepemimpinan politik terhadap Covid-19 pada kedua negara ini. Sebagai negara yang  terkena dampak Covid-19, Indonesia telah melakukan kebijakan PPKM (Pembatasan Sosial Berskala Mikro) selama 2 bulan, sedangkan India menerapkan lockdown total sebagai pilihan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Menurut laporan Knowledge Group yang dimuat di laman Forbes, Indonesia masuk kategori 20 negara dengan tingkat safety serangan virus paling rendah, dengan risiko penularan paling tinggi. Dalam hal ini safety yang diukur dari aspek kebijakan berkaitan dengan quareantine efficiency, government management effiency, monitoring and detection, dan emergency treatment readiness, Indonesia berada dalam lima negara dengan tingkat keamanan terbawah, bersama India (Colangelo, 2020).

Virus yang telah menyebar di banyak negara ini dihadapi dengan respon yang berbeda-beda. Jelas pada akhirnya bahwa kontrol pemerintah dan kebijakan yang tepat sangat berpengaruh dalam menangani kasus Covid-19 khususnya yang terjadi pada gelombang ke-2 ini. (*)





loading...
Loading...