Candafa Tekat Tiga Dara Jaga Warisan Budaya Melayu Lewat Tenun Tradisional

9 Mei 2026
Anak dari pemilik Candafa Tekat Tiga Dara sedang menenun benang-benang menjadi kain. Foto: Surya/Riau1.

Anak dari pemilik Candafa Tekat Tiga Dara sedang menenun benang-benang menjadi kain. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Di sebuah sudut rumah produksi sederhana, jemari-jemari perempuan muda itu bergerak pelan namun pasti. Di atas bentangan kain biru sepanjang beberapa meter, cairan tinta ditorehkan mengikuti pola yang rumit. 

Sesekali, ia menunduk lebih dekat, memastikan setiap lengkung motif terbentuk sempurna tanpa cacat. Suasana di ruangan itu terasa hangat dan penuh ketekunan. 

Tidak ada mesin modern yang mendominasi. Yang terdengar hanya percakapan lirih, gesekan kain, dan napas para perajin yang larut dalam pekerjaan mereka. Di tempat itulah seni batik tumbuh yang dikerjakan dengan kesabaran dan ketelitian tinggi.

Seorang perempuan muda mengenakan busana merah tampak fokus membatik di atas kain berwarna biru tua. Dengan tangan kanan, ia menggoreskan seperti pipa kecil mengikuti pola yang telah digambar sebelumnya. 

Sementara, tangan kirinya menggenggam wadah kecil berisi cairan untuk membatik batik. Setiap garis dibuat perlahan agar motif tetap rapi dan simetris.

Kain panjang itu direntangkan menggunakan bingkai kayu sederhana. Motif berwarna hitam tampak memanjang di bagian tengah kain, dipadukan dengan ornamen bunga kecil yang mempercantik tampilan. Perpaduan seni Melayu dan batik tradisional menghadirkan nuansa elegan.

Di ruangan lain, beberapa perempuan muda juga tampak sibuk menyelesaikan karya mereka masing-masing. Ada yang membatik pada kain putih. 

Ada pula yang menghias kain berwarna merah dan biru muda dengan motif serupa. Wajah mereka menunjukkan konsentrasi penuh. Bagi mereka, membatik bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses merawat warisan budaya Melayu.

Salah seorang perempuan paruh baya terlihat memperlihatkan hasil karya berupa kain selempang biru dengan motif putih. Dialah pemilik usaha tenun ini. 

Perempuan ini bernama Tengku Syarifah Nurila Zaharazad, pemilik pusat kerajinan Candafa Tekat Tiga Dara di Gang Jati, Jalan Dahlia, Kelurahan Harjosari, Kecamatan Sukajadi, Kota Pekanbaru. Di belakangnya tergantung berbagai karya seni bernuansa Islami, mulai dari kaligrafi berbingkai hingga busana bermotif batik. 

Tempat itu bukan hanya ruang produksi, tetapi juga ruang kreativitas bagi para perempuan untuk berkarya. Kesederhanaan tempat tidak mengurangi nilai seni yang dihasilkan. 

Dari ruangan bercat kusam dan peralatan seadanya, lahir karya-karya yang memiliki nilai estetika tinggi. Ketelitian para pembatik mencerminkan bahwa setiap helai kain menyimpan cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan kecintaan terhadap budaya.

Di tengah gempuran produk pabrikan dan motif digital, para perempuan ini tetap mempertahankan proses manual yang membutuhkan waktu panjang. Mereka percaya bahwa sentuhan tangan manusia menghadirkan ruh yang tidak dapat digantikan mesin.

Batik khas Melayu yang mereka hasilkan bukan sekadar kain hias. Di setiap lekuk motif, tersimpan identitas budaya dan semangat pemberdayaan perempuan. Dari ruang sederhana itu, mereka menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Di tempat itu, warisan budaya Melayu Riau dirawat dengan kesabaran. Rumah produksi tersebut dirintis Nurila, sapaan akrabnya, sejak 2006. Semuanya dimulai dari belakang rumah.

Awalnya, usaha tersebut hanya berupa kerajinan kecil-kecilan. Sulaman tekat menjadi produk pertama yang dibuat. Berbekal kegemaran pada dunia kerajinan tangan, Nurila mulai memproduksi sulaman khas Melayu dengan peralatan sederhana.

“Awalnya, saya membuat sulaman tekat. Memang hobi saya di kerajinan,” katanya.

Dari sulaman tekat, usaha itu berkembang perlahan. Kemudian, Candafa Tekat Tiga Dara memproduksi tenun Melayu, batik tulis, batik cap, hingga batik abstrak. Semua dikerjakan secara manual tanpa menggunakan mesin cetak.

“Kalau printing pakai mesin. Di sini, semuanya handmade (kerajinan tangan),” tuturnya.

Bagi Nurila, usaha tersebut lahir bukan semata untuk mencari keuntungan. Ada cita-cita besar yang ingin ia wujudkan, yakni memperkenalkan kekayaan budaya Riau kepada masyarakat luas. Keinginan itu tumbuh dari kecintaannya terhadap budaya Melayu sejak usia remaja. Ia tidak ingin seni sulaman tekat hilang ditelan perkembangan zaman.

“Tekat ini tidak boleh hilang di Riau. Orang Riau harus tahu kalau ini bagian dari kekayaan budaya kita,” ucap dengan nada penuh semangat.

Nama Tekat Tiga Dara pun memiliki makna khusus. Kata “tekat” merujuk pada seni menyulam di atas kain bludru khas Melayu. Sedangkan “Tiga Dara” diambil dari anak perempuannya berjumlah tiga orang.

Dalam budaya Melayu, sulaman tekat memiliki banyak jenis, seperti tekat payet, tekat galang, tekat suji, hingga tekat perada. Semua membutuhkan ketelitian tinggi. Karena, motif disusun menggunakan benang emas maupun perak.

Ketekunan Nurila membuahkan hasil. Kini, Candafa Tekat Tiga Dara telah berkembang menjadi salah satu sentra kerajinan Melayu di Pekanbaru.

Produknya beragam, mulai dari kain batik, tenun, hiasan dinding, plakat tanjak, hingga suvenir pernikahan. Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari instansi pemerintahan, perusahaan, hingga pelanggan luar daerah. Bahkan, beberapa produk sulaman tekat pernah dikirim ke Malaysia dan Jerman.

“Kalau batik tulis, dalam sebulan bisa sampai dua ratus lembar. Tergantung pesanan,” ucap Nurila.

Salah satu produk yang paling diminati ialah syal batik tulis. Selain digunakan sebagai aksesori fesyen, produk tersebut juga kerap dijadikan cendera mata dalam berbagai kegiatan resmi.

Pesanan dalam jumlah besar sering datang menjelang kegiatan pemerintahan maupun acara daerah. Baru-baru ini, Candafa Tekat Tiga Dara mendapat pesanan untuk kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang digelar di Aceh dan Medan.

Saat pesanan meningkat, jumlah pekerja pun bertambah. Jika biasanya hanya terdapat sepuluh pekerja tetap, jumlah itu dapat meningkat hingga dua puluh orang.

Sejak awal merintis usaha, Nurila memang sudah melibatkan masyarakat sekitar. Ia mengajarkan keterampilan menyulam dan membatik kepada warga maupun anak-anak muda yang ingin belajar. Sekarang ini, sebagian pekerjanya berasal dari lulusan SMK Negeri 4 Pekanbaru yang sebelumnya menjalani masa magang di tempat tersebut.

“Ada yang kami ajarkan dari awal. Ada juga yang sudah bisa lalu kami asah lagi supaya lebih pandai,” sebut Nurila.

Membatik dan menenun bukan pekerjaan mudah. Proses pembuatan tenun, misalnya, dapat memakan waktu hingga tiga minggu untuk satu kain. 

Proses tenum tergantung tingkat kerumitan motif. Kesulitan terbesar terletak pada penghitungan benang emas dan perak saat mengisi motif.

“Semuanya butuh ketelitian dan kesabaran. Karena, pelanggan biasanya meminta motif dan warna tertentu,” ungkap Nurila.

Di balik perkembangan usahanya, Candafa Tekat Tiga Dara juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satu dukungan itu berasal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRI mulai mendampingi kelompok usaha tersebut sejak 2022. 

Bantuan mesin tenun menjadi salah satu dukungan paling berarti bagi Candafa Tekat Tiga Dara. Dengan alat tersebut, kapasitas produksi meningkat. Para perajin semakin mudah menyelesaikan pesanan dalam jumlah besar.

Meski demikian, Nurila mengaku masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya ialah keterbatasan tempat penyimpanan produk. Agar, kain batik dan sulaman tidak mudah berdebu.

Untuk bahan baku, sebagian masih didatangkan dari Pulau Jawa dengan niilai pembelian yang tidak sedikit. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya dan karyawannya.

Di lain kesempatan, Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru Widia Apriani mengatakan, Candafa Tekat Tiga Dara tumbuh dari perkumpulan ibu-ibu di Jalan Dahlia yang bergerak di bidang kerajinan sulaman tekat pada awalnya. BRI memberikan dukungan berupa pelatihan digital UMKM, pelatihan pengemasan produk, bantuan pameran, hingga mesin tenun yang masih digunakan sampai sekarang.

“Kelompok ini sekarang sudah berkembang dan sering diundang dalam kegiatan mulai tingkat kelurahan hingga provinsi,” ujarnya.

Di tengah gempuran produk pabrikan dan motif digital, Candafa Tekat Tiga Dara tetap bertahan dengan proses manual yang membutuhkan waktu panjang. Setiap helai kain yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan. Melainkan, setiap helaian kain itu cerminan ketekunan perempuan-perempuan Melayu dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.