Dinkes Pekanbaru Catat 706 Kasus DBD, Empat Pasien Meninggal

3 Oktober 2026
Sekretaris Dinkes Pekanbaru Dedy Sambudi. Foto: Surya/Riau1.

Sekretaris Dinkes Pekanbaru Dedy Sambudi. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) seiring perubahan cuaca dari panas ke hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Dinkes Pekanbaru mencatat 706 kasus DBD sejak awal Januari hingga September.

"Dari ratusan kasus tersebut, empat pasien dilaporkan meninggal dunia," kata Sekretaris Dinkes Pekanbaru Dedy Sambudi, Sabtu (3/10/2026).

Sebagian pasien yang meninggal terlambat mendapatkan penanganan medis. Pasien umumnya baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah sangat lemah.

"Mungkin awalnya dikira demam biasa, tetapi akhirnya demam tinggi. Setiba di rumah sakit mengalami penurunan trombosit sehingga kondisi sangat lemah dan tidak tertolong," sebut Dedy.

Warga diingatkan agar tidak menganggap sepele gejala demam, terutama ketika disertai indikasi yang mengarah pada DBD. Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan agar pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin. 

Perubahan cuaca dari panas ke hujan juga perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi vektor penular DBD. Warga diminta memastikan tidak ada genangan air yang dapat menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk di sekitar rumah. 

Genangan tersebut tidak hanya berada di tanah. Tetapi, genangan juga dapat muncul pada berbagai barang yang menampung air.

"Genangan ini yang memicu jentik nyamuk Aedes aegypti berkembang," ujar Dedy.

Warga diajak kembali mengintensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Upaya tersebut antara lain dengan menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air. Warga diingatkan untuk memperhatikan barang-barang di sekitar rumah, seperti ban bekas, kaleng, dan ember yang dapat menampung air hujan.